Review

Perempuan Poliandris - Drupadi

drupadi
Quote

Drupadi sendiri tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan, Jika segala sesuatunya sudah menjadi suratan ? Apakah yang masih menarik dari hidup yang berkepanjangan ? Apakah usaha manusia tidak ada artinya ? Apakah se

Bagi saya yang sedikit banyak tau tentang perwayangan terutama plot cerita yang mainstream seperti Mahabarata membaca buku Drupadi seperti langsung diajak untuk menyusun puzzle-puzzle ingatan yang ada dan membandingkannya dengan cerita yang ada di buku Drupadi karangan Seno Gumira Adjidarma ini. Kali pertama saya membaca buku karangan beliau, buku pertama juga yang saya selesaikan di tahun 2019 cukup buruk memulai start di bulan kedua tahun ini. Tidak apa-apa tidak ada kata terlambat untuk memulai. Membaca Drupadi dengan latar belakang perwayangan hindu-jawa, Seno memiliki narasi yang cukup kuat dan alur cerita yang runtut sehingga tidak perlu adaptasi terlalu lama.

Dimulai dari pengenalan sosok Dewi Drupadi yang berasal dari Pancala anak dari Prabu Drupada, penggambaran sosok Dewi Drupadi yang ayu memang menjadi plot sentral pada bab-bab awal cerita. Dewi Drupadi yang menuju tempat sayembara dengan iring-iringan gajah istana nan meriah diiringi juga dengan penari-penari menggambarkan sosok dewi yang ayu idaman para raja seantero jagad. Dewi Drupadi yang dibuatkan sayembara untuk memilih calon suami dengan cara membidik burung dengan panah, burung diletakan di atas kepala penari sehingga susah untuk dipanah. Sayembara ini pun jelas menarik perhatian raja-raja perkasa yang datang dari seluruh penjuru tidak terkecuali dari Hastinapura. Raja Duryudhana sebagai tokoh antagonis yang diperkenalkan pada bab-bab awal dan sampai pada akhir cerita ini pun ikut memulai sayembara. Dengan sombong Duryudhana memegang busur panah dan menarik panah dengan kerasnya. Karena sayembara diikuti oleh para kesatria yang ilmunya sakti-sakti, prabu Drupada tentunya sudah memberikan mantra-mantra dan ajian sehingga tidak mudah untuk menaklukan sayembara ini, dalam kata lain ilmu para peserta tentunya harus melebihi Prabu Drupada untuk memenangkan sayembara untuk memperebutkan Dewi Drupadi. Dengan penjagaan Prabu Drupada mengakibatkan Duryudhana gagal melesatkan anak panahnya, Duryudhana kesal karena menganggap ini salah sayu kecurangan. Majulah Karna untuk menggantikan Duryudhana untuk mengikuti sayembara dengan mudahnya Karna mengakat busur panah dan panah sudah siap untuk dilepaskan, namun Dewi Drupadi menghentikan Karna karena syarat untuk mengikuti sayembara ini adalah yang kastanya minimal setara dan mempunyai asal-usul keluarga yang jelas. Mendengar syarat itu dari Dewi Drupadi secara langsung membuat hati Karna kecil sekaligus geram dan marah namun Karna sadar memang asal usul dia yang lahir dan dihanyutkan di sungai dan ditemukan oleh kusir istana sudah tersebar di segala penjuru membuat aib yang membuat Karna tidak percaya diri sampai sekarang. Drupadi sebenarnya menahan sesak mengeluarkan kata-kata itu namun dugaan drupadi jikapun Karna bisa menang dia akan hanya bernasib menjadi istri dari Duryudhana.

Masih belum ada yang memenangkan sayembara ini semua yang gagal memenangkan sayembara masih menunggu keputusan Prabu Drupada, tiba-tiba datang seorang pria muda menggunakan pakaian berbulu rusa bertanya apakah boleh dia mengikuti sayembara. Terjadi pertentangan karena dia seorang brahmana para kesatria tidak terima kalau seorang brahmana ikut dalam sayembara ini. Namun Dewi Drupadi berseru jika Brahmana tidak lebih rendah kastanya dari dirinya jadi majulah si pria muda ini untuk mengikuti sayembara. Dengan kosentrasi tinggi pria muda ini dengan mudahnya mengangkat busur dan panah siap untuk dilepaskan. Panah pun melesat menembus burung dan tergeletak disamping Prabu Drupada. Denga seketika Duryudhana murka menuduh Prabu Drupada curang karena memperbolehkan seorang Brahmana ikut namun dengan sigapnya Dewi Drupadi berteriak, "Aku mau menikah denganya ! dia calon suamiku". Ada geliat aneh yang di sadari Karna terhadap Brahmana itu, Karna tau dia adalah Arjuna, dengan seketika Kurawa gempar, Duryudhana menyuruh untuk langsung menyerang dan terjadilah pertempuran. Merespon serang itu munculah Arjuna dan empat saudaranya yang lain, pertarungan sengit tidak terhindarkan. Banyak yang terkejut melihat kelima Panddawa masih hidup mengingat kejadian sebelumnya ada kebakaran hebat yang terjadi di Bale sigala-galA kediaman para Panddawa. Ternyata pada saat kejadian kebakaran yang disengaja itu ada yang mencium rencana jahat para Kurawa untuk membakar hidup-hidup Panddawa di Bale sigala-gala itu. Pada saat sebelum kejadian Panddawa sudah pindah ke hutan dan kebetulan ada yang datang seorang pengemis san kelima anakanya yang mendiami bale itu. Pengemis dan 5 orang anaknya pun tewas tidak sempat diselamatkan. Kurawa mengira jenasah yang ada di bale itu adalah jenasah Panddawa ternyata Panddawa selamat dan sudah pindah kehutan. Selama di hutan Panddawa berguru ke berbagai macam guru sehingga ilmunya sekarang tidak terbatas oleh ilmu dari Maha Guru Dorna. Akhir dari sayembara ini pun dimenangkan oleh Panddawa, Drupadi mengikuti Panddawa kemanapun mereka pergi. Pada bagian ini saya sebagai pembaca sedikit menyimpulkan cerita-cerita pewayangan seperti selalu ada pesan yang coba disampaikan selalu ada pilihan dimana yang baik disandingkan dengan yang buruk contohnya Kurawa dan Panddawa, selain itu ada juga Arjuna dan Karna sama-sama ahli panah tapi satu dipihak baik satu dipihak yang buruk. Dulu saya sering protes kenapa kesaktian memanah Arjuna ada yang menandingi rupanya mungkin itu salah satu cara untuk meyampaikan nasihat-nasihat dalam pewayangan.
Lanjut kecerita selanjutnya mengenai perdebatan batin seorang Dewi Drupadi yang harus menikahi kelima Panddawa, dimulainya perdebatan siapa yang lebih pantas menikahi Dewi Drupadi, Arjunakah yang mengikuti sayembara, Yudhistira kah yang menyuruh arjuna untuk ikut sayembara itu. Semua putra Panddawa saling lempar karena merasa tidak berhak dan rasa persaudaraan yang dalam senasib sepenangungan. Karena tidak ada yang bisa memutuskan baik dari Panddawa maupun Dewi Drupadi. Dewi Kunti ibu Panddawa pun memutuskan untuk menikahkan Dewi Drupadi kepada kelima putra Panddawa tersebut.

Bagian selanjutnya menurut saya bagian yang sulit saya terima, Panddawa 5 terjebak dalam permainan dadu atau judi dadu. Sungguh saya tidak begitu mengerti kenapa sampai bisa sampai mempertaruhkan seluruh kerajaan Hastinapura bahkan Dewi Drupadi pun menjadi taruhanya. Dulu saya coba memahami berkali-kali kenapa bagian ini sulit sekali saya terima nalar akal sehat saya, namun ketika saya menyelesaikan buku ini saya jadi sedikit memahami. Mungkin kembali lagi sifat dari pewayangan yang memberikan makna dibalik kejadian-kejadianya. Ibaratkan manusia memang tempatnya salah dan terjebak dalam permainan yang tidak bisa dia hindari memang manusia sejatinya tempatnya salah. Lewat Yudhistira permainan nasib atau permainan dadu bergulir antara Panddawa dan duryudhana. Yudhistira sejatinya memang sering bermain dadu tapi hanya sebatas menghibur diri dalam permainan nasib yang tidak mengorbankan apapun, karena bagi penjudi ini adalah kehidupanya namun bagi Yudhistira ini hanya sekedar permainan, tetapi yang baginya sangat mengundang penghayatan. Ia sangat tertarik untuk mengalami, bagaimana nasib bisa dibolak-balikan oleh dadu yang dilempar. Karena ambisi yang terpendam Yudhistira terhadap permainan ini terbaca oleh Sangkuni dan hanya Sangkuni yang menyadari kelemahan ini. Akhirnya Sangkuni memanfaatkan peluang ini untuk menjerumuskan Panddawa lewat Yudhistira yang akrab dipanggil samiaji. Sangkuni membisikan kepada Duryudhana untuk memberi kemenangan terlebih dahulu kepada Yudishtira yang memang tidak pernah menang dalam permainan ini sehingga Yudhistira bisa terjebak dalam permainan ini sampai gelap mata. Permainan dimulai dengan mempertaruhkan ratusan keping emas, permainan awal sesuai perintah Sangkuni permainan ini dimenangkan Yudhistira dengan muda dalam sekejap ribuan keping emas dimenangkan. Naas tidak dapat ditolak taruhan makin lama makin besar mulai dari ratusan ribu keping emas, seluruh gerobak emas bawaan kelima Panddawa. Seluruh keping emas bawaan Yudhistira habis termasuk emas Panddawa, dengan pancingan dari Sangkuni dan Duryudhana untuk mempertaruhkan seluruh kerajaan Hastinapura beserta isinya. Keragu-raguan jelas terlihat di raut muka Yudhistira namun tetap saya Yudhistira menerima tantangan. Dadu pun dilempar dan Yudhistira memilih angka 2 dan hasilnya bisa di tebak Yudhistira kalah lagi Panddawa kehilangan Hastina. Pancaran,wajah Yudhistira semakin keruh dia kemudian mempertaruhkan Arjuna, semua Panddawa dan Drupadi. Hasilnya sudah bisa ditebak Yudhistira kehilangan semuanya mereka menjadi budak dari Kurawa. Duryudhana menyuruh salah satu anak buahnya untuk menjemput Dewi Drupadi yang juga menjadi bahan taruhan yang dimenangkan oleh kurawa, Dewi Drupadi menolak lalu dijemput paksa oleh Dirsasana dengan cara dijambak dan diseret menuju ke tempat Duryudhana. Dewi Drupadi dipaksa untuk menyembah Duryudhana namun menolaknya, sehingga Dewi Drupadi ditelanjangi oleh kurawa, Pandwa hanya terpatuk diam terhina.

Panddawa dan Dewi Drupadi terusir dari Hastina pura mereka diasingkan dan menyamar selama 12 Tahun, jika sudah 12 tahun mereka akan mendapatkan kembali indraprasta salah satu daerah di Hastinapura. Ini merupakan pengembaraan kedua Panddawa setelah peristiwa terbakarnya bale sigala-gala. Para Panddawa menyamar di Wirata dalam penyamaranya Panddawa menghabisi kichaka karena menyukai Sarindhri yang mana dia adalah penyamaran dari Dewi Drupadi. Tinggal 13 hari penyamaran Panddawa sedangkan mata-mata dari hastina semakain gencar untuk mencari, disisi lain matinya Kichaka terdengar sampai Hastinapura majulah Kurawa lewat instruksi dari Sangkuni untuk merebut kembali Wirata. Pasukan gajah datang menggempur Wirata, Utara maju bersiap untuk mengdapainya dengan dibantu Panddawa yang masih menyamar pertempuran besar terjadi perang yang dikenal perang baratayudha. Di sisa waktu untuk menumpas kurawa, Panddawa menghadapi perdebatan sengit dengan Dewi Drupadi ini merupakan dialog yang menurut saya sangat menarik tentang bagaimana permpuan dari cerita satu kecerita yang lain selalu mengalami penindasan entah perlakuan ataupun pernikahan perempuan sejatinya mempunyai perwakilan penting melalui buku ini melalui sosok Drupadi yang menentukan bagaimana Panddawa bertindak untuk membalaskan dendam Dewi Drupadi yang hanya akan membersihkan rambutnya menggunakan darah Dursasana. Dengan ini akankah menamatkan dendam dari Drupadi yang mana Drupadi sendiri tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan, Jika segala sesuatunya sudah menjadi suratan ? Apakah yang masih menarik dari hidup yang berkepanjangan ? Apakah usaha manusia tidak ada artinya ? Apakah segala sesuatunya sudah ditentukan oleh para dewa-dewa ? Drupadi merasa kehidupan ini tidak adil. Mengapa penderitaan ditimpakan pada perempuan.

Akhir cerita dari buku ini merupakan kisah akhir dari kehidupan Panddawa dan Dewi Drupadi dimana Dendam akan hanya menghasilkan dendam baru, dendam tidak akan membawa kebahagaian dan kemenanagan hanya ada kesedihan di akhir cerita. Tidak ada yang menang dalam peperangan tidak akan pernah ada. Terlepas dari itu semua Drupadi menurut saya mewakili sosok perempuan yang mewakili semangat perjuangan, saya memaksakan untuk pesan dari pewayangan ini. Drupadi merupakan sosok dimana mereka perempuan yang melawan penindasan terhadap golonganya. 

Apa Reaksi Anda ?



Husna Alliyus Dwi Karisma (Pewarta)

Menjadi kaum urban sejak 2011 dan mengaku tidak menambah sesak ibukota.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY