Review

Tidak Ada New York Hari Ini Dalam Puisi dan Foto

Tidak Ada New York Hari Ini

Judul          : Tidak Ada New York Hari Ini 
Penulis      : M. Aan Mansyur
Penerbit    : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 120 Halaman
Cetakan     : Ketujuh, Juni 2016

Sebuah buku kumpulan puisi yang terinspirasi oleh skenario film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2). Buku bersampul monokrom hitam putih ini berisi 30 buah judul puisi tulisan M. Aan Mansyur dengan ilustrasi kumpulan foto jepretan Mo Riza yang juga disajikan dalam warna hitam putih. Kalau yang sudah menonton film AADC 2 pasti sudah dapat menebak bagaimana isi buku puisi ini. Ya, puisi-puisinya bertema cinta yang sepertinya masih mengganjal atau dengan kata lain cinta yang belum selesai. Ada rindu yang belum sempat tersampaikan dalam setiap puisinya.

“… Kadang-kadang, kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.” – Pukul 4 Pagi

“… Aku mengundang kau juga. Datanglah. Masuklah. Taka da kamera tersembunyi yang mengawasimu seperti di tiap sudut kota. Di puisiku hanya akan kau termukan tubuhmu jatuh ke lengan seseorang. Dia menciummu hingga kau lupa kau pernah merasa ditinggalkan. Kau boleh membayangkan dia adalah aku atau siapa pun yang kau inginkan.” – Di Halaman Belakang Puisi Ini

“Di bawah langit yang sama, ada dua dunia berbeda. Jarak yang membentang di antaranya menciptakan bahasa baru untuk kita. Tiap kata yang kau ucapkan selalu berarti kapan. Tiap kata yang aku kecupkan melulu berarti akan.” – Bahasa Baru

“… Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.” – Batas  
“Tiap benda di dunia memiliki hati. Dan, seorang penyair pernah berkata kepadaku, semesta sendiri pula memiliki hati. Aku memikirkan kata-kata itu dan aku tidak mampu tidak memikirkan matamu. Sepasang matamu, bencana raksasa di kejauhan. Tidak berhenti membuat hidupku jadi benda kecil yang memiliki hati.” – Sepasang Matamu

Jelas tergambarkan bagaimana rapuhnya Rangga dalam setiap puisi. Bagaimana rindunya Rangga kepada Cinta dan ingin bertemu untuk “kembali”. Puisi M. Aan Mansyur ini disampaikan dalam bahasa yang sederhana, ringan untuk diterima dan diartikan. Sehingga pesan dari setiap bait begitu mudah sampai kepada pembaca. Cocok untuk bacaan dikala petang hari atau siang hari dilangit yang muram.

Ilustrasi foto yang tergambarkan adalah tentang kekosongan, kesepian dan kesunyian kota New York dalam pandangan Rangga. Sebagian besar foto adalah jejak kaki dan pandangan kosong yang tertangkap di sudut-sudut jalan New York. Kumpulan fotonya tidak begitu terkoneksi dengan puisinya namun tetap dalam atmosfer perasaan yang sama.

Tidak banyak yang bisa direview dari sebuah buku puisi. Menikmatinya adalah salah satu kesimpulan yang bisa diambil.

Apa Reaksi Anda ?



Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY