Review

Sebuah lelucon

jalan raya pos jalan raya daendels

Buku pertama di awal tahun 2018 saya jatuhkan pilihan pada buku Pram Jalan Raya Pos Jalan Daendels, tidak ada alasan khusus untuk memilih buku ini untuk mengawalli tahun 2018. Saya cuma memilih buku tipis-tipis dan ringan saja. Buku ini juga tidak masuk buku yang populer dari sebagian besar pembaca pram yang melulu bercerita tetralogi pulau buru, mungkin saya salah, barangkali ada yang mengidolakan buku ini, ya itu terserah kalian. Mengawali buku ini juga kalian pasti langsung dibawa ingatan lama tentang sejarah yang ada di sekolah kalian tentang jalan pos, Dendels dan sejarah-sejarah penjajahan konvensional. Mengingat cover dari buku ini cukup mewakili untuk membawa imajinasi liar saya pribadi, di cover buku ada : gambar peta jalan dicetak secara samar dan prajurit belanda (Daendels) entah itu seragam tentara belanda apa inggris saya tidak cukup yakin. 


Memasuki lembar pertama seperti biasa satir tajam pram langsung membuat saya geleng-geleng kepala, begitu kuat dan masih terasa sampai sekarang, seperti ini bunyinya, "Indonesia adalah negri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain". Cerita buku ini memang menceritakan proses pembangunan jalan raya pos yang mana jarak jalan 1000 kilomenter membentang di laut utara jawa dari Anyer sampai Panarukan, dan pastinya menceritakan bagaimana tenaga kerja pribumi di tindas dan diexploitasi secara biadab. Buku ini mengambil plot teratur dari ujung ke ujung berdasarkan rute dari jalan tersebut, dan ditambahkan pengalaman penulis buku (Pram) pernah singgah atau cara Pram mengenal daerah itu. 

Dimulai dari Anyer, adapun kota-kota yang dilalui oleh pembangunan Jalan Raya Pos adalah Blora-Rembang, Lasem, Anyer, Cilegon, Banten, Serang, Tangerang, Batavia, Meester Cornelis/Jatinegara, Depok, Buitenzorg/Bogor, Priangan, Cianjur, Cimahi, Bandung, Sumedang, Karangsembung, Cirebon, Losari, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Waleri, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Juwana, Rembang, Tuban, Gresik, Surabaya, Wonokromo, Sidoarjo, Porong, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, Panarukan. Pram menulis dalam buku ini memang bercerita melulu pembantaian,   seperti pembangunan jalan yang ada di Cianjur, Cimahi dan Praingan pada saat itu priode pembangunan masuk pada area perbukitan dan pekerja dipaksa untuk mecah bukti. Tak terhitung berapa pekerja yang tewas dalam pembangunan tersebut yang diakui dari belanda sebanyak  5000 orang, namun tidak ada hitungan pasti dan dasar yang kuat terhadap nilai tersebut kemungkinan bisa 3 atau 4 kali lipat. 

Hal serupa terjadi di semarang ketika pembangunan sampai di daerah semarang, posisi saat itu di rawa-rawa, pekerja harus menguruk atau mengubur sekian meter untuk bisa dilalui jalan. Bisa kita bayangkan selain kelaparan hal yang harus dihadapai pekerja adalah nyamuk malaria yang tidak kalah ganasnya. Malaria memang pembunuh ganas dikawasan-kawasan tropis. Lantas berapa korban yang jatuh karena wabah itu,  tidak ada jumlah yang pasti dalam kejadian itu yang jelas setengah dari pekerja harus dikuburkan dalam penggarapan jalan didaerah itu. Pram dalam buku ini selalu mengingatkan berulang-ulang kali bahwa kita bangsa yang dijajah puluhan ribu orang atau jutaan orang mati atau direnggut haknya. Ratusan tahun kita dijajah dikuasai hak-haknya untuk mengingatkan bahwa dari mana kita berasal, dan bagaimana kita harus bersikap. Saya paham betul buku ini untuk siapa dan satir macam apa yang dikirmkan Pram. 

Kita bangsa besar sepatutnya pemimpin-pemimpin bangsa ini belajar dari sejarah dari mana dan bagaimana bersikap, bukan lantas kita sebagai bangsa malah meniru penindasan-penindasan yang dilakukan oleh penjajah masa lampau. Kesalahan kesalahan order baru bagi saya dan mungkin disetujui oleh Pram adalah bukti bahwa pemimpin masa itu malah meniru sikap-skap penjajah yang membuat kita ini bangsa yang menjadi budak dari bangsa itu sendiri. Selain itu saya makin membenarkan anggapan saya yang liar bahwa order baru adalah rezim peniru dari penjajahan masa lampau adalah ketika agresi militer terhadap Timor Leste. Apapun alasanya ketika saya melihat film di Kineforum Taman ismail Marzuki yang berjudul "Memoria", saya jadi cukup yakin pemimpin masa itu hanyalah anak-anak meniru tindak tanduknya kolonialisme dan berusaha melampiaskan ke bangsanya sendiri(Timor Leste).

Kembali ke buku jalan Raya Pos ini, satu hal yang saya soroti khusus dan saya abadikan ke judul yaitu " Sebuah lelucon", Lelucon yang saya maksud saya ambil dari buku halaman 79, Pram juga senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya. Ada kenangan yang pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang dalam tugas ketentaraannya bertugas di daerah Cirebon, dalam kegelapan malam secara tak disengaja ia pernah buang hajat disebuh tungku dapur yang disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk rangsum para laskar rakyat.


Apa Reaksi Anda ?



Husna Alliyus Dwi Karisma (Pewarta)

Menjadi kaum urban sejak 2011 dan mengaku tidak menambah sesak ibukota.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY