Sisi Lain

Pulang

Menunggu Kereta jarak jauh di stasiun Pasar Senen
Quote

Sabarlah Ini hanya berdesak-desakan dengan sedikit menunggu, sebentar lagi pulang. Tiada yang lebih damai selain kampung halaman. Semua berduyun-duyun untuk pulang, kenapa pulang ?? Ya itu tidak perlu dijelaskan.

Berbicara tentang rindu memang menjadi dapur banyak orang apalagi bagi kaum-kaum urban yang memilih pergi dari kampung halaman dengan pelbagai alasan. Momen-momen satu dua bulan menuju bulan puasa menjadi sangat cocok untuk membicarakan rencana kepulangan untuk sekedar mencari tiket yang sesuai jadwal maupun menghindari berebutnya tiket waktu malam. Bagi banyak orang mungkin sudah tidak asing dengan istilah berebutnya tiket waktu malam, ya mungkin tidak sedikit juga yang tidak tau sama sekali. Seperti beberapa hari ini ada beberapa teman yang menanyakan seperti ini, "bagaimana dapat tiket pulang apa tidak?, saya sudah begadang jam 12 malem tet. Eh baru 10 menit sudah ludes",  kata teman saya yang memilih merantau lagi karena menikah dengan pria ibukota. 

Ya memang moda transportasi yang kami pilih adalah moda transportasi sejuta umat yaitu kereta, saya pribadi lebih memilih itu karena hemat dan ada hal lain yang lebih sakral. Sakral semacam apa yang saya maksud, semacam obrolan dengan bapak ibuk tentang bagaimana moda transportasi kereta ini dari tahun ke tahun, atau semacam obrolan-obrolan bapak yang menuju jakarta untuk sekedar rindu ingin bertemu anaknya. Ada pula sekali waktu saya bertemu seorang pengagum pram juga dikereta dengan bukunya yang berjudul Larasati. Dan ada lagi saat di gerbong lokomotif untuk sekedar cari kopi dan menghisap satu dua batang tembakau dan bercerita tentang daerah-daerah penghasil batik Pekalongan dengan mbah-mbah yang sudah cukup sepuh. Saya pikir ini ajaib sekali, orang masih seramah ini dan tidak pernah saya dapat di moda transportasi yang lain. Meskipun makin kesini moda ini juga makin kaku makin bergaya kaptialis yang ada uang perjalanan nyaman.


Lalu apa hubungannya rindu dan pulang, sejujurnya tahun-tahun belakangan ini memang menyiapkan pulang menjadikan cukup kerepotan entah karena jadwal kerja yang tidak mendukung, dan tahun ini harus memikirkan tugas belajar yang tidak bisa ditinggal begitu saja. Selain itu saya sedikit terpengaruh dengan buku Titik Nol karangan Agustinus Wibowo yang mensakralkan pulang menjadi beberapa bab sendiri untuk urusan itu, isinyapun tak perlu saya ceritakan panjang lebar disini, kamu harus membacanya sendiri.  

Sejujur saya menulis ini karena seringnya diajukan pertanyaan, atau itu semacam seruan. Seruan semacam pulanglah, udah buru pulang, makanya pulang dan lain sebagainya. Saya lebih sering menanggapi seruan semacam itu dengan santai dengan cengiran tipis, atau jawaban iya iya biar selesai, namun dibalik itu pulang bagi saya sebagai sesuatu yang tidak biasa-biasa saja, seperti menikah bukan berarti yang lain nikah dan kalian menjadi waktunya menikah, bukan seperti perlombaan siapa yang cepat menikah dia yang menang. Lebih lebih tradisi mudik (Pulang ke kampung halaman waktu menjelang lebaran ) yang membuat pulang menjadi sebuah kata yang tidak remeh temeh. Bagi saya dan jawaban saya atas pulang adalah  pulanglah ketika apa yang kamu perjuangkan di tanah rantau sudah membebani pundakmu, pulangalah ketika pekerjaanmu sudah memenuhi pikiranmu, pulanglah ketika belajarmu membutuhkan restu dari ibumu, dan pulanglah ketika pertanyaan dalam hatimu, inginkah kita pulang ? kamu jawab dengan mantab ya saya harus pulang, atau pulanglah kala calon mantumu udah siap kamu kenalkan pada ibumu  hhha kali ini saya becanda. 
 


Apa Reaksi Anda ?



Husna Alliyus Dwi Karisma (Pewarta)

Menjadi kaum urban sejak 2011 dan mengaku tidak menambah sesak ibukota.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY