Review

Di sebelah kiri jalan

Buku Orang-orang dipersimpangan kiri jalan

Buku kedua tentang atau hasil karya Soe Hok Gie yang saya baca, kali ini saya cukup bisa mengikuti alur dan cerita-cerita di dalamnya. Sebenarnya saya tidak cukup percaya diri untuk menulis pandangan saya tentang buku ini, mengingat saya masih cukup awam tentang buku-buku politik yang rumit semacam ini, tentu guru saya (author juga di kanal kreasi) jauh lebih paham tentang buku ini. Lain waktu saya akan menyuruhnya mereview buku ini juga, supaya pembaca lebih bisa melihat garis ceritanya. Ini memang buku kedua yang saya baca, buku sebelumnya adalah buku tentang Soe hok gie yaitu Catatan seorang Demonstran. Garis cerita dari buku tersebut menceritakan kehidupan pribadi dari tokoh yang bernama Soe Hok Gie, pandangan-pandanganya, kisah-kisahnya, jalan yang dia pilih, hal-hal yang dia sukai dan pandangan orang terhadapnya. 


Namun, sebelum saya menyelesaikan membaca, buku itu sudah berpindah tangan.Tentu nanti akan saya teruskan dan mungkin juga akan masuk ke situs ini juga. Kembali ke buku orang-orang di persimpangan kiri jalan ini, buku yang mengisahkan pemberontakan PKI madiun 1948 merupakan buku adaptasi dari skripsi Soe Hok Gie, untuk meraih gelar S1 nya di Universitas Indonesia. Saya mulai mereview buku ini dari paradigma yang beredar luas tentang pemberontakan PKI yang sering dikenal G30SPKI itu terkesan menakutkan, PKI itu dianggap musuh masyarakat, PKI itu penuh darah dan lain sebagainya. Namun berkat buku ini, Gie secara sistematis menulisnya dengan penggambaran-pengambaran yang jelas, menceritakan asal muasal timbulnya pemberontakan, dan dengan obyektif dan hati-hati Gie menaruh sebuah titik tulisan yang adil antara fakta dan rumor yang beredar saat itu. Seketika saya sadar bahwa ada kesenjangan dari pengetahuan awam kita tentang pemberontakaan ini dan fakta-fakta yang dikemukakan lewat buku ini sangat jauh berbeda. Gie menceritakan paham-paham perubahaan dari gerakan pemberontakan PKI sebelumnya pada tahun 1926 yang berujung pembantaian PKI oleh Belanda. Tokoh dari PKI sendiri adalah Musso yang dilahirkan di desa Pagu, Kediri, adalah seorang yang terpelajar. Bahkan ia menjadi murid kesayangan Dr. Hazeu (penasihat Belanda urusan Bumiputera). Pada masa pendidikannya ia bersahabat dengan Alimin, yang kelak juga menjadi pemimpin PKI. Musso juga pernah berguru pada H.O.S. Tjokroaminoto, sehingga ia juga dekat dengan Soekarno. Tokoh lain adalah Alimin Prawirodirdjo, dilahirkan di Surakarta dalam sebuah keluarga yang miskin. Ia lalu dipungut anak oleh Dr. Hazeu dan diberikan kesempatan bersekolah agar kelak dapat menjadi pegawai pemerintah. Tapi sayangnya dunia jurnalistik dan politik lebih menarik minat Alimin muda. Alimin tergabung dalam Boedi Oetomo dan Central Sarekat Islam. Ia juga berguru pada H.O.S. Tjokroaminoto dan bersahabat dengan Musso, Soekarno, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Kegagalan pemberontakan pada tahun 1926 ini membuat pemerintah belanda semakin keras pada organisasi PKI ini, Alhasil tokoh tokoh kunci PKI ditangkap. Karena rekasi pemerintah belanda terhadap kader kader PKI sangat keras, Musso, Alimin dan Tan malaka melarikan diri ke luar negri. 

Gie menceritakan keuletan Musso sebagai dalang peristiwa pemberontakan Madiun secara jelas, usaha-usaha Musso untuk tetap akan melakukan pemberontakan lewat perundingan dengan Tan malaka meskipun Tan malaka menolak, Musso juga pergi ke Moscow, Rusia untuk mencari dukungan dari Rusia, hasilnya pun sama Rusia menolak dengan tegas, karena rencana Musso dinilai terlalu terburu-buru. Pada tahun 1935 Musso kembali ke Indonesia tepatnya di Surabaya untuk mengkader PKI, menyusupkanya pada partai politik seperti  Partai Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Para kader PKI yang menjadi anggota Gerindo antara lain Wikana, D.N. Aidit, Sidik Kertapati, dan Sudisman. Mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda pun juga tak lepas dari sasaran PKI. PKI sempat mengkader beberapa tokoh mahasiswa macam Abdulmadjid (ketua Perhimpunan Indonesia setelah Hatta), Setiadjid, Rustam Effendi, Maruto Darusman, Sumitro Djojohadikusumo, dan Mr. Jusuf. Kegagalan pemberontakan PKI pada tahun 1926 membuat perpecahan di kubu PKI itu sendiri. PKI terpecah menjadi beberapa kubu seperti kubu PKI 35, kubu Tan malaka, Kubu kader PKI Musso, semua mengaku tunduk pada pusat komitern Moscow. Mereka merasa memikul tugas untuk menyelamatkan kaum yang terhina dan tertindas.

Lewat kader-kader yang menyusup di partai politik, dan semangat PKI yang merasa memikul tugas untuk menyelamatkan kaum yang terhina dan tertindas. Gie menceritakan PKI mulai bergerak berjuang mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Sebelum Belanda menyerah pada jepang, Belanda membentuk gerakan dibawah tanah yang dipimpin Amir sjarifuddin, Amir sempat mengajak dua tokoh nasional yaitu Sjahrir dan Hatta namun menolak, Amir berhasil menjadikan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai sekutunya. Ia bersama Dr. Tjipto membentuk GERAF (Gerakan Rakyat Anti-Fasis). Tapi Jepang dapat mencium pergerakan GERAF dan menangkapai para pemimpin GERAF. Gerakan amir tercium oleh jepang yang mengakibatkan Amir dihukum mati, namun karena intervensi Soekarno jepang tidak jadi menjatuhi hukuman mati pada Amir.

Pada masa pasca kemerdekaan pemerintahan PKI atau disebut pemerintahan sayap kiri dimulai, ada 3 tokoh pada saat itu, tokoh pertama adalah Soetan Sjahrir, Tan malaka, dan Amir Sjarifuddin. Tokoh pertama yang memimpin adalah Soetan Sjahrir, Sjahrir cenderung memiliki paham sosialis- demokratis yang ia terapkan pada saat ia menjabat menjadi perdana menteri. Pandangan Sjahrir yang cenderung demokratis dan mau bernegoisasi dengan Belanda sambil menyempurnakan konsep Republik Indonesia berlainan paham dengan Tan Malakan yang cenderung keras tanpa kompromi. Pada masa Sjahrir partai politik mendapatkan legalisasi lewat maklumat Mr. Jusuf, berdirilah beberapa partai seperti Paras yang didikan oleh Sjahrir, Parsi oleh Amir. PBI berdiri setelah Sjahrir terlalu sibuk dengan jabatan perdana menteri. Pada masa itu PKI berselisih paham dengan tokoh TRI (Tentara Republik Indonesia) seperti Soedirman dan Naution yang dianggap fasis karena bekas didikan Belanda dan Jepang. Kabinet Sjahrir hanya bertahan 1945-1947 karena Perjanjian Linggarjati yang dianggap gagal dan menuai banyak kecaman, Sjahrir akhirnya mundur dari perdana menteri. Paham PKI masih menguasai Indonesia, setelah Amir menggantikan Sjahrir sebagai perdana menteri. Dan Amir Sjarifuddin juga jatuh dari jabatannya setelah mengalami kegagalan dalam persetujuan Renville yang berakibat semakin menyempitnya wilayah NKRI. Amir Sjarifuddin pun mengalami hal yang sama seperti Soetan Sjahrir. Gie menceritakan suasana rakyat Indonesia tentang revolusi pada kedua tokoh itu, seperti ideologi Sjahrir yang dianggap rakyat indonesia revolusi yang anti belanda. Namun lewat perundingan Linggarjati rakyat dipaksa kecewa dengan hasilnya. Sama halnya dengan Sjahrir, Amir pun seperti itu ideologi yang kental akan ide revolusi nyatanya amir masih tidak yakin dengan ideologinya yang membuat ia jatuh pada perundingan Renvile, karena beberapa partai politik menarik diri dari koalisinya.

Selanjutnya Gie menceritakan bahwa setelah jatuhnya kabinet Amir, maka selesailah sudah kepemimpinan organisasi sayap kiri/ PKI di politik indonesia. Mengingat paska turunya Amir, Hatta diangkat menjadi Perdana mentri dan lewat progrm Nasionalnya, membuat Amir dengan sayap kirinya yang saat itu berubah nama menjadi FDR (Front Demokrasi Rakyat) menajdi tertekan. FDR yang saat itu masih masuk dalam jajaran kepanitian akhirnya menarik diri dan keluar menjadi oposisi di pemerintahan Hatta. FDR ternyata mempunyai basis yang kuat di kalangan rakyat. Bahkan Divisi IV (Batalyon Panembahan Senopati) berada dibawah pengaruh FDR. Apalagi lewat Propaganda Musso sebagai inisiator rencana ini .Hal ini membuat susana mencekam dan saling tuduh antara Pro-FDR dan Anti-FDR, terlebih lagi saat Tan malaka yang dibebaskan oleh Hatta saat Hatta diangkat menjadi perdana menteri. Suasana semakin mencekam dua kubu saling menculik dan membunuh, di wilayah solo menjadi basis Anti-FDR dan Madiun menjadi basis PRO-FDR. Mengetahu keadaan seperti itu Hatta akhirnya mengumumkan darurat perang.

ini merupakan bagian akhir dari review buku orang-orang dipersimpangan kiri jalan ini, saya sangat tersentuh tentang tulisan dari Gie yang mengambil kata-kata dari Mayjend. T.B. Simatupang diambil dari Laporan dari Banaran hlm. 98. ”Saya sendiri yakin bahwa anak-anak biasa, yakni prajurit-prajurit dan pemuda-pemuda yang telah gugur pada kedua pihak selama peristiwa Madiun ini umumnya tidak tahu-menahu tentang persoalan-persoalan yang berada di belakang tragedi nasional ini. Saya yakin bahwa doa yang terakhir dari anak-anak itu semua adalah untuk kebahagiaan dan kebesaran tanah air yang satu juga”. Akhir cerita dari buku ini sungguh memperihatinkan dimana pemberontakan selalu terjadi karena ketidakpuasan rakyat kepada pemerintah. Saya juga sungguh miris membaca perjuangan pasca kemerdekaan dibayar mahal dengan darah para saudara kita sendiri. Penutup buku ini tidak akan saya ceritakan secara terperinci, saya rasa tidak akan menarik kalau saya review lagi selengkap dibagian-bagian sebelumnya, inti dari cerita penutup adalah penumpasan-penumpasan pemberontakan lewat pengepungan Madiun. Musso tewas tertembak di Ponorogo disebuah desa kecil, yang kebetulan saya lahir disitu, desanya bernama Balong. Sedangkan Amir tertangkap dan dihukum mati. 

Apa Reaksi Anda ?



Husna Alliyus Dwi Karisma (Pewarta)

Menjadi kaum urban sejak 2011 dan mengaku tidak menambah sesak ibukota.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY