Memoar

Pada Pangkal Ingatan

foto dari instagram @husnakarisma

Untuk Tri, Pur, Ardi, dan beberapa kawan yang pernah bersama kami dalam suatu malam untuk merobeki atribut partai di pinggir jalan.

Hari minggu lalu saya sekedar berjalan-jalan keliling kota, naik sepeda motor, bercelana pendek, sendal jepit, dan jaket tipis, belum sadar bahwa udara disini terlampau dingin untuk kostum seperti itu, tentu saja ingatan saya pendek tentang udara di kota ini. Berjalan menyusuri jalanannya yang berdebu untuk menemukan kembali ingatan tentang apapun yang tersimpan pada sudut-sudutnya. Sehabis lebaran seperti ini selalu ada banyak waktu untuk membahas banyak omong kosong. Mampir di beberapa tempat kawan untuk sekedar menyapa dan mengucapkan permohonan maaf hari raya. Saya bertemu dengan banyak kawan lama tahun ini. Menyeret mereka di tangkringan terdekat untuk menyesap beberapa gelas kopi dan menggiring beberapa obrolan tentang kawan lain.

Malam itu cukup cerah layaknya musim kemarau tahun lalu, tapi suasana sudah berbeda, ada aroma kooptasi riuh mulai memenuhi kota ini. Saya bersama beberapa kawan yang sempat menolak kota ini berkalang oleh mall. Pembangunan sudah terlampau brutal, dua tahun terakhir bahkan 3 mall sudah di bangun, dan di Ponorogo timur para penambang pasir semakin berhasrat untuk meratakan gunung. Para cukong telah melihat potensi alam kota ini dan melihat kesempatan bisnis konsumerisme masyarakat lokal. Ada yang harus dibayar dari sebuah perubahan ini, tentu hal pertama adalah perihal kenyamanan. Ponorogo tak lagi seperti dulu yang Resik, Endah, Omber, Girang-gemirang. Sekali lagi bukan pembangunan yang kami tolak melainkan potensi tergerusnya rumah damai kami. Kami tidak anti pembangunan, tapi kami anti terhadap kebrutalan pembangunan.

Kota kecil ini selalu menjadi pelarian saya ketika saya muak dengan kebangsatan ibukota. Selalu menjadi rumah yang tenang dan damai. Saya ingin menjaga itu dan beberapa kawan juga, namun melihat semua yang berjalan begitu cepat kami takut kehilangan rumah yang nyaman ini. Kami ingin menggugat, namun apalah arti beberapa orang ini dibalik para cukong dan aparat sebagai tameng. Mungkin kami memang sudah menyerah begitu awal.

Beberapa obrolan terdengar memberi kejutan ketika sebagian kawan memutuskan untuk bergabung dengan partai, yang salah satu gambarnya bahkan kami robeki malam itu. Yah saya memaklumi, kita semakin banyak tuntutan seiring umur. Mendesaknya faktor ekonomi membuat kita semakin tak punya banyak pilihan. Merenung sesaat teringat ketika suatu malam beberapa tahun lalu, saya dan beberapa kawan sempat merobeki pamflet, spanduk, banner dan apapun mengenai atribut partai yang berada di pinggir jalan, partai apapun. Alasan kami saat itu bahwa kami tidak butuh lagi pemimpin, negara ini seperti berjalan sendiri, dengan atau tanpa pemimpin akan sama saja.

Malam mulai merayap, asbak semakin penuh karena kretek yang terbakar semakin banyak. Saya dengan khidmat menyimak diskusi sambil sesekali mencuri kretek yang tergeletak, karena kretek saya sendiri sudah habis dibakar menyisakan abunya yang sebagian berserakan di sandal. Meskipun yang ada hanya samsu dan super, saya memilih samsu lebih karena malam yang dingin.

Angin invasi para cukong semakin berhembus kencang di Ponorogo, seharusnya kota ini tak banyak berubah. Tanah ini bukan sesajen buat para cukong. Saya pulang pukul 01.00 dinihari, berkendara menahan dingin sambil masih melamunkan obrolan-obrolan tadi. Saya tak menemui pembelaan apapun untuk semua hal yang terjadi tentang kota ini. Saya harus membaca lagi Das Kapital yang urung jua saya pahami karena kebebalan otak saya. Satu-satunya buku yang saya tahu membahas kapitalisme, saya harap itu masih relevan hari ini. Meskipun beberapa teori Marx memang tidak pernah terbukti. Disisa waktu liburan ini seharusnya juga ada banyak waktu untuk membaca lagi. Sampai dirumah saya melihat ada banner calon Bupati di pohon depan rumah saya, tergantung tersenyum menunggu untuk saya bakar. Namun saya mengurungkannya setelah menyadari korek saya tertinggal pada obrolan dengan kawan-kawan tadi.

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY