Review

The Velvet Underground dan Revolusi yang Kalis

images by thevinylfactory.com

Vaclav Havel pada akhir dekade 80an membuat pergolakan besar dan menjadikannya dikenang dalam sejarah perkembangan dunia. Pada waktu itu musim dingin terjadi di Praha, tapi kondisi politik tengah panas-panasnya. Revolusi itu diberi nama Velvet Revolution atau Revolusi Beludru. Revolusi Beludru menandakan bagaimana kesatuan rakyat menggulingkan tiran dengan cara yang flamboyan. Ini mungkin menjadi hari dimana Marx atau Lenin tak lagi dalam tahap menginspirasi bagi Cekoslowakia. Pengaruh Marx habis terbakar dalam dominasi partai tunggal komunis yang tiran dan korup.

Perjuangan yang melibatkan ribuan warga Cekoslowakia turun ke jalan meruntuhkan rezim komunis dan menjadi babak baru dalam pemerintahan Cekoslowakia menjadi demokrasi. Sayangnya pada awal 1993 Cekoslowakia resmi berpisah dan menjadi dua negara berdaulat, masing-masing menyandang nama Republik Ceko dan Slowakia yang kini kita kenal. Eloknya pada saat perpecahan yang terjadi, transisi kekuasaan atau perpisahannya dilakukan dengan cara yang sangat damai. Tanpa adanya pertumpahan darah. Jelas itu sebuah prestasi.

Kalau menegok sejarah pecahnya sebuah negara, Yugoslavia jelas bisa menjadi perbandingan. Perang antar etnis yang berakibat terjadinya pertumpahan darah yang tragis. Proses disintegrasi Yugoslavia juga berlangsung rumit.

Terlepas dari itu pernahkah kita menelaah muasal pemberian kenapa revolusi tersebut diberi nama Velvet Revolution?. Ada hal di balik itu semua, dan yang jelas ada hubungannya dengan salah satu band yang pernah digawangi Lou Reed, yaitu The Velvet Underground. Havel muda dalam pencarian jati dirinya begitu terpengaruh dengan album pertama dan self titled dari The Velvet Underground and Nico. Album yang kini menjadi ikonik dengan gambar pisang tersebut.

Album ini sendiri dirilis pada tahun 1967, yang pada saat itu hanya terjual 10.000 keping. Saya tidak tahu apakah memang benar mitos yang media-media gembar-gembor kan bahwa dari semua orang yang membeli rilisan atau orang yang membeli first press dari album tersebut kemudian membuat band. Demikian album ini diarsiteki oleh Andy Warhol sang begawan pop-art.

Saya kira album ini sudah dikuliti sampai ke akar-akarnya oleh banyak kritikus, dan sebenarnya sudah tak ada lagi yang perlu ditulis. Tentu saja apa yang mereka sampaikan lebih kredibel. Tapi saya juga seorang yang pada saat mendengarkan Femme Fatale atau I’ll Be Your Mirror merasa ada yang berbeda dan membuat bulu roma berdiri.

Album yang berisi banyak elemen menarik yang tak habis-habis saya selami dan harus didengarkan dengan khusuk. Apa pasal? Kalau diihat dari lirik, album ini banyak bercerita tentang drug. Heroin dan I’m Waiting for The Man adalah dua lagu yang sudah benderang bercerita mengenai obat-obatan terlarang. Atau tentang suami istri yang aneh-aneh. Tentu mungkin tak akan ada yang bisa diambil dari tema-tema tersebut. Nyatanya sebuah revolusi tidak peduli akan itu.

Lou Reed dalam beberapa lagu tidak bernyanyi sendiri, ia berduet maut dengan Nico (nama alsinya Christa Paffgen). Gaya menyanyi Nico saya pikir sangat sesuai dengan karakter album ini. Gaya germanic yang membuat vokal menjadi lirih dan agak sedikit gothic saya pikir.

Betapa elegannya sebuah revolusi tersebut. Menggulingkan tiran tidak pernah sekeren ini. Kalau sedikit mengutip kata-kata dari Emma Goldman “If I can't dance I don't want to be in your revolution.” Mungkin inilah wajah revolusi yang dikatakan Emma Goldman. Revolusi Beludru tetap dikenang, bahkan diperingati setiap tahun. Dan pada perayaan ulang tahun Revolusi Beludru The Velvet Underground beberapa kali diundang untuk tampil di Praha.

Uniknya pada 2014, dilansir BBC pada sebuah jajak pendapat satu dari enam orang Ceko ingin kembali ke naungan komunisme. Mereka masih saja dibuai nostalgia. Sama saja bukan seperti yang terjadi di negeri ini, dengan ungkapan yang beredar di stiker-stiker, kaos, atau bokong truk dengan gambar orang tua melambaikan tangan disertai tulisan “piye kabare? Isih enak jamanku to.”

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY