Sisi Lain

Harta, Tahta, dan Wanita Versi Haji Bolot

credit image suara.com

Haji Bolot tak pernah gagal membuat saya tertawa, dengan ciri khasnya yang bertingkah budek. Setidaknya ada dua hal yang membuat pelawak layak disebut legend, pertama tentu karakter yang membedakannya dengan pelawak lain. Layaknya Rowan Atkinson atau Mr. Bean dengan karakter bodoh yang diperankan dengan sangat cerdas. Kedua adalah konsistensi, melawak tentu tidak sama seperti menyanyi. Kalau di setiap konser kalian bisa menyanyikan lagu yang sama, beda dengan melawak yang pada lain kesempatan kalian harus mencari bahan lain. Mengulang lawakan yang sudah pernah dibawakan tidak akan membuat penonton tertawa dua kali. 

Bolot pelawak yang saya kira masih sangat orisinil karena berangkat dari generasi lawakan tanpa skrip. Kalau saya pikir karakter Bolot dengan budeknya merupakan hal paling mudah untuk memancing tawa tanpa adanya settingan sebelumya. Karakter yang kuat dan diperankan dengan cerdas . Lagipula hari ini apasih yang tidak settingan. Beda halnya mungkin saat Bolot masih bermain di Pepesan Kosong bareng Malih. Generasi kita hidup dan tumbuh di era lawakan a la Stand-up Comedy. Dalam kasus Stand-up Comedy tentu kalian pernah melihat seorang komika yang membawakan materi yang sama dilain pentas. Memang melucu itu susah. Apalagi melucu seperti yang dilakukan Bolot yang tanpa hina-menghina, tanpa menyinggung masalah pribadi atau membuka aib, tanpa memukul-mukul dengan properti sterofoam.

Pada usianya yang sudah tidak muda lagi Bolot tetap masih bisa mengimbangi lawakan masa kini. Zaman yang bisa dibilang bukan lagi bagian dari generasi lawakannya, dulu apa yang dianggap lucu belum tentu sekarang dianggap lucu juga. Begitu pula sebaliknya.

Ada hal yang luput kita pahami dari karakter seorang haji Bolot, sifat yang terlalu benderang pada kehidupan sehari-hari. Bolot tidak akan nyambung ketika diajak ngobrol ngalor-ngidul, ia hanya akan nyambung ketika berbicara 3 hal. Bicara duit, wanita, dan hal-hal yang bersifat menguntungkan untuk dirinya sendiri. Saya tak tahu apakah ini sebuah sindiran atau hanya usaha untuk membuat lelucon. Tapi bukankah terkadang lelucon itu adalah sindiran paling menyakitkan.

Saya banyak melihat sifat Bolot itu pada banyak orang yang tinggal di kota. Bagaimana ketidakpedulian akan apapun sudah menjadi hal jamak. Atau Bolot mungkin ingin membuka mata kita bahwa sifat itulah yang membuat empati kita terkikis sedikit demi sedikit. Meskipun ciri khas budek ini sudah sejak dulu menjadi brand image bagi Bolot. Saya baru saja menyadari ada hal dibalik itu yang jika ditilik sangat sesuai dengan kondisi hari ini.

Budek tidak sekedar karakter yang melekat, tapi dari itu pula bisa kita jadikan pemikiran untuk hal yang lain. Menjadi pembelajaran dengan tingkah yang dilakukan Bolot menjadi tidak sederhana.

Atau mungkin kalau kalian ingin berfilsafat tentang kebudekan dengan mengatakan bahwa pada era sekarang dengan informasi yang begitu mudahnya kita dapatkan. Menjadi budek dan sedikit rabun adalah anugerah. Ketidaktahuan menjadi penting di zaman seperti ini. Kita hanya harus pahami hal yang mendasar yang bisa membuat kita bertahan yaitu duit, wanita, dan keuntungan bagi diri sendiri. Ada benarnya mungkin.

Bolot memberi pemahaman bagi saya dengan cara yang sangat subtil. Bahwa melakukan kritik sosial tidak perlu berapi-api atau butuh berjilid-jilid riset. Tidak dengan cara kekerasan pula. Cukup dengan lelucon yang sangat mudah dicerna. Dan yang paling penting mungkin tidak terlalu menguras emosi. Dengan cara satire namun tajam.

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

Sisi Lain

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY