Review

And Like That... Poof... He's Gone

credit image youtube.com

Saya sudah sangat membatasi untuk menulis tentang sebuah film, karena sangat sedikit yang saya ketahui tentang bagaimana sebuah film bisa menjadi film, maksudnya dalam proses pembuatannya. Saya tak tahu apapun mengenai teknik sinematografi, dan saya masih juga tak mengerti mengapa tata rambut terbaik masuk dalam nominasi oscar. Sejauh manapun saya membatasi diri untuk tak menulis mengenai sebuah film, akhirnya saya menjilat ludah sendiri.

Ludah yang saya jilat kembali itu bukan tanpa alasan, paling besar porsi alasan itu adalah saya merasa ditipu dan dibodohi oleh film yang baru-baru ini saya tonton. The Usual Suspects yang disutradarai Brian Singer orang yang sama dibalik seri X-Men. Film pertengahan dekade 90an yang saya tak tahu masuk dalam genre apa film ini, Crime? Bisa sih. Noirs? Bisa sih. Thriller? Bisa sih. Atau gabungan dari ketiganya? Bisa sih.

Saya menonton sambil ngantuk-ngantukan dan melewatkan banyak detil. Bahkan karena kantuk tak tertahankan, saya pause film ini dan sempat tidur sebentar, bangun lalu kembali melanjutkan menontonnya. Saya kira awalnya film ini hanya istimewa dengan alurnya yang maju mundur dengan sangat bagus. Jadi setelah menyaksikan ending yang sangat twist, saya menonton ulang film ini dan memerhatikan setiap detil yang luput saya pahami. Menonton film yang sama setelah sebelumnya menontonnya. Satu kebodohan bertambah.

Verbal Kint dan Arkosh Kovash merupakan dua orang yang selamat dalam sebuah peristiwa berdarah. Keduanya dianggap sebagai kunci dalam memecahkan kasus besar ini. Keduanya berada di tempat yang terpisah, Verbal Kint berada di kantor polisi dan diintrogasi oleh Dave Kujan. Sementara luka bakar yang parah membuat Arkosh Kovash harus dirawat di rumah sakit, dan Jack Baer bertugas mencari informasi darinya walaupun dalam keadaan yang begitu parah.

Agak susah mencari informasi dari Arkosh Kovash karena dia orang Hungaria dan tidak bisa berbahasa Inggris. Pada intinya ia menyebut satu nama Keyser Soze. Setelah mendatangkan seorang penerjemah bahasa, Jack Baer meminta Arkosh Kovash memberikan detail dari orang yang bernama Keyser Soze untuk dibuatkan sketsa wajah.

Sementara Dave Kujan mengintrogasi sambil sesekali mengitimidasi Verbal Kint untuk menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Verbal Kint mendapatkan imunitas atas kasus ini. Ia bercerita dari peristiwa konyol yang mempertemukan mereka, ketika lima orang penjahat dipanggil pihak kepolisian karena diduga mencuri sebuah truk. Memang tuduhan itu tak terbukti dan mereka dinyatakan bebas, tapi tak semudah itu. Kelimanya adalah Dave Keaton, McManus, Fenster, Hockney, dan Verbal Kint. Kelima orang itu merasa harus melakukan sesuatu atas tindakan konyol yang dilakukan polisi kepada mereka.

Rencana mereka adalah merapok layanan taksi terbaik di New York, layanan taksi terselubung dan korup yang dijalakan kepolisian yang memberikan layanan jemputan untuk kegiatan bisnis ilegal semisal penyelundupan barang. Setelah tugas itu selesai justru McManus mendapatkan pekerjaan lain dari Redfoot untuk merampok Saul. Selepas tugas itulah seorang bernama Kobayashi yang mengaku utusan dari Keyser Soze bertemu dengan kelimanya. Kobayashi membeberkan pekerjaan yang tak mungkin bisa mereka tolak, karena Keyser Soze punya dokumen yang siap mengungkap satu-persatu siapa dan apa yang telah mereka perbuat. Tugas yang diberikan Keyser sebenarnya tak rumit-rumit amat bagi penjahat kelas kakap seperti mereka, tugas mereka hanya menggagalkan transaksi narkoba dari seorang bandar dari Argentina.

Tampaknya memang dari kemunculan Kobayashi penonton secara tidak sadar digiring untuk menebak siapa sebenarnya Keyser Soze. Penjahat yang namanya muncul sebagai sebuah sesuatu yang sangat menakutkan, bahkan kadang dianggap sebagai mitos. Saya pun tergoda menebak-nebak Keyser Soze itu siapa. Tebakan saya adalah Kobayashi pada awalnya. Sebelum saya digiring kembali pada teori Dave Kujan yang cukup menyakinkan, dan bangsatnya itu semua salah. Kalau kalian menonton film ini sampai akhir kalian akan menemui jawabannya pada akhir cerita yang twist. Diperkuat dengan sketsa wajah yang dibuat dan menjadi penggambaran Keyser Soze sesunguhnya. Setelah menontonnya saya seperti menemui kenyataan bahwa semua itu hanyalah ilusi dan muslihat, seperti hidup ini yang juga adalah kefanaan.

Banyak yang bilang film ini hanya penting di endingnya, sementara selain itu semuanya filler. Yah, siapa peduli, intinya ini film yang dengan cerita sederhana tapi kelihatan njlimet. Saya sangat menyukai kata-kata Verbal Kint saat Dave Kujan mengintimidasinya dan membentaknya beberapa waktu sebelum cerita berakhir “How do you shoot the Devil in the back? What if you miss?.” Kalau bukan Kevin Spacey yang memerankan Verbal pasti kata-kata itu terlihat biasa saja. Ada ketakutan yang mendalam dari sorot matanya, mimik, dan juga nada bicaranya. Damnit! it's so real (fake).

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY