Sastra

Perkara Rindu

credit picture : https://www.kompasiana.com


Lara itu sebenarnya kenangan yang hingap dan pergi lagi.

Tentang ingatan. Tentang segala yang pernah kau jalani di masa lalu, dia datang di masa sekarang dengan membawa pisau runcing yang memusut dadamu. Ada rasa nyelekit dalam dadamu akan kedatangannya yang sejatinya tak pernah benar-benar kau harapkan. Ia adalah kawan lama yang datang menyapamu dengan cara yang tak pernah kau inginkan.

Ingatan tentang kekasih lama. Rindu. Kamu menginginkan saat itu kembali. Rindu yang memburu itu semakin membuatmu gelisah. Yang kamu rindukan sebenarnya bukan parasnya yang teduh, atau matanya yang pernah membuatmu lena, bukan juga rambutnya yang kadang dibiarkan terurai menutupi sebagian pipi kanannya. Itu hanya beberapa hal yang coba kamu tempatkan pada orang yang saat ini bersamamu, kamu mencoba menyeragamkan pola yang pernah kamu jalani saat bersamanya. Satu yang pasti yang kamu rindukan bukan tentang dirinya, tetapi ingatan pada saat bersamnya yang membuatmu nyaman. Otakmu menuntut untuk hal itu terulang kembali.

Seberapapun banyak detil yang coba kamu seragamkan, nyatanya usahamu tak pernah benar-benar bekerja. Rindu-rindu itu tak pernah bisa tuntas, dan mungkin memang tidak ada kesempatan untuk menjadi tuntas. Tetap dalam sisi abu-abunya yang membingungkanmu.

Kenangan itu tak pernah benar-benar bisa hilang dalam putaran masa, ia hanya menunggu waktunya untuk diputar ulang di kemudian hari, di waktu tak tepat lain. Setengah mati sudah kamu coba robek ingatan atas perempuan itu, tapi ia, bukan tentang  perempuan itu sebenarnya hantu itu, melainkan kenangannya selalu menuntut waktumu untuk kembali ke sudut-sudut itu. Kamu kadang tetap mengigat saat itu walau dengan wajah yang lamat-lamat, bahkan seringnya yang ada dalam ingatanmu tersebut tak memiliki wajah yang jelas.

Kamu adalah orang dimasa sekarang yang masih hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang pekat. Kata orang kamu tidak bisa move on dari perempuan itu. Ah anjing macam apa itu, kamu tak pernah percaya itu. Karena pada hakikatnya kamu sudah mulai lupa detil wajah kekasihmu yang lama. Hanya ingatan pada saat bersamanya tak pernah benar-benar bisa kamu buang.

Hantu yang membuatmu bertahan dari rasa kantuk di malam hari dan membuatmu malas melakukan apapun seharian, jika ia sudah datang menyapa. Demikian ia datang merusak segala sesuatu, kadang ia pergi hanya untuk kembali dengan cerita dan rasa nyelekit yang sama. Kamu menyalahkan waktu, tapi kamu akan terlihat bodoh jika waktu adalah kambing hitam. Waktu hanyalah hal yang tak melingkar tak kita pahami, ia bisa saja sekedar maya. Waktu hanya hitungan dan detak jam. Tak ada artinya.

Pada akhirnya kamu harus menerima kedatangan sekaligus kepergiannya dengan kecut. Demikian rindu yang kamu harus terima sebagai sebuah masa. Masa yang sudah ada dalam dimensi lain, tapi masih sangat gambalng dalam sudut-sudut ingatanmu. Serupa pita kaset jadul yang jika kita putar masih bisa mengingatkan masa yang seharusnya telah menjadi artefak.

Kamu selalu berusaha melarung ingatan dengan ritual-ritual menyedihkan yang kau lakukan, meletakkan barang-barang sesuai pola yang dulu kau ketahui saat bersamanya. Seperti meletakkan gelas berisi teh diatas sound system, menaruh pot kaktus kecil dekat dengan layar monitor, bahkan membei tempat sampah dengan merk, warna dan meletakkannya disudut ruangan. Tapi kaupikir itu adalah katarsis terbaik yang bisa kamu lakukan saat ini.

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY