Sastra

Sudut

sastra

Pernahkah kau lihat ikan yang tak puas akan samudra?
Pernahkah kau lihat kekasih mendamba?
Pernahkah kau lihat citra mengelakkan pengukirnya?
Pernahkah kau lihat kata yang kehilangan maknanya?

Kau tak perlu nama
Engkaulah samudra
Aku terhanyut dalam ayunmu

RUMI

Hai perempuan berambut pendek.

Rumi selalu membuatku percaya pada keindahan kata-kata, ia selalu membuat penyair lain tampak amatir. Dan dengan semua itu kamu tahu, bagiku puncak cinta yang paling paripurna hanya bisa dicapai oleh penyair-penyair timur-tengah. Puisi-puisi yang mereka ciptakan tidak cocok untuk merayu memang, tapi bagiku itu adalah bentuk cinta yang sesungguhnya.

Aku membaca Rumi pertama kalinya dari buku Selimut Debu, Agustinus Wibowo. Kemudian jatuh cinta pada kata-katanya, aku selalu tak mampu membuat sebuah puisi. Aku membaca Rumi dan percaya pada cinta dan tentang banyak hal yang menyertainya. Percaya dengan kekuatan sesuatu yang tak bisa benar-benar disentuh tapi sangat nyata. Yaitu kata-kata.

Kata-kata yang tersimpan di sudut senyap bersama sepotong sore, itulah yang kuinginkan. Matahari yang terlalu ringkih kemudian cahayanya perlahan memudar, batas antara siang dan malam yang disebut senja tersebut adalah kata yang sangat sering digunakan penyair-penyair. Nasib senja ditangan penyair adalah sama seperti nasib hujan. Senja memang indah, dan aku ingin melewatkan banyak senja bersamamu nanti.

Aku selalu suka dengan gagasan kita untuk bersama, untuk nantinya mengisi sebagian hidup bersamamu. Merasakan masakanmu setiap malam, aku akan menceritakan kepadamu kenapa aku membaca Ernest Hemingway, tentang bencinya aku kepada hewan cicak, atau tentang kenapa aku membeli album Fleet Foxes, Pink Floyd dan juga Pure Saturday. Kamu tidak harus mengerti dan memahami, kamu hanya harus ada disitu untuk mendengarkan sambil sesekali menaruh tanganmu di bawah dagu.

Di hari minggu aku akan mengajakmu bermalas-malasan sepanjang hari di tempat tidur. Hari tersebut, mungkin hanya pelukan yang kita butuhkan, dan mengesampingkan untuk makan. Aku hanya akan memintamu membuatkanku secangkir kopi. Kita akan beranjak jika sudah tak kuat menahan peluh keringat karena kota kita yang panas.

Aku selalu suka menunggumu saat sedang makan, waktumu makan memang cukup lama. Tapi aku bisa dengan lama-lama mengamati rambutmu. Rambut pendekmu yang terurai tak berlebihan itu. Kadang tanganmu menyibaknya sedikit, karena menganggu barangkali. Aku tahu cara menikmati dunia pada saat itu, waktu melambat pelan dengan segala ketergesaan.

Aku tak suka caramu memandang sesuatu yang kadang terlalu berlebihan, sesuatu yang tak perlu kamu pedulikan yang kadang membuatmu menangis. Kamu harus bisa mengelola itu, sesuatu yang tak seharusnya kamu pikirkan tapi menyita banyak emosimu.

Kita akan menguji banyak teori yang kita harapkan dan inginkan dulu. Doa-doa yang kita bentangkan dalam panjang keresahan. Kita punya rencana yang berbeda dalam hidup, dan sekarang ini berbeda. Menjadi berbeda dari sebelumnya, apa bedanya?. Sekarang kita harus persiapkan untuk nanti. Kenyataan dikemudian hari.

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY