Review

Mengelola Harapan Bersama In The Aeroplane Over The Sea

credit image analogrevolution.com

Tidak ada band di kolong langit yang mengemas album selayaknya yang dilakukan Neutral Milk Hotel dalam In the Aeroplane Over the Sea. Bukan hanya musik yang mengetarkan, artwork yang cukup artistik ataupun keputusan Jeff Mangum paska album ini dirilis. Album yang dengan menyentuh banyak bercerita mengenai luka, kehilangan, kenangan, dan harapan. Saya menyukai hal yang terakhir, mengenai harapan-harapan yang terpanggang api di album ini.

Album yang secara garis besar mengajak kita berempati pada anak 13 tahun korban keganasan Nazi. Seorang gadis bernama Anne Frank. Bagaimana seorang vokalis rock bisa tersentuh sampai jatuh sedalam-dalamnya pada diary seorang anak yang bahkan masih dalam masa transisi menuju masa remajanya.

Hal paling menancap di kepala para fans barangkali adalah Jeff Mangum yang hilang bak di telan bumi setelah album ini dirilis. Meskipun dengan sukses lumayan yang didapat album ini yang menggiringnya pada banyak tur. Jeff Mangum memutuskan untuk meninggalkan itu semua. Mungkin memang Mangum sudah mengisyaratkan semua melalui Two Headed Boy part II, lagu penutup dalam album ini dengan isyarat yang sangat jelas dengan meletakkan gitar dan berjalan meninggalkan mikrofon. Gelagat yang baru saya pahami setelah ratusan kali mendengarkan album tersebut. Sebuah isyarat dirinya benar-benar lelah akan semua ini atau bahkan ia tidak bisa lagi mengelola emosi atas banyak hal tersebut.

Ia kemudian baru muncul kembali pada tahun 2010, dengan cambang yang memenuhi wajahnya dan sorot mata ketenangan. Banyak teori tentang hal yang menyebabkan ia menghilang, disertai beberapa hoax menyebalkan akan kemunculan dalam waktu-waktu yang lalu.

NME menempatkan album ini pada urutan 98 dalam list 500 greatest albums yang mereka buat, saya secara subjektif bahkan menilai seharusnya album ini bisa berada di posisi yang lebih dari itu. Layak pada posisi 10 besar. Dengan gesekan-gesekan gergaji, lirik yang melampaui sekat-sekat pemikiran, serta keriuhan kecil psikadelik, seharusnya musik mereka tak pernah ramah di telinga. Tapi tentu saja kalian akan mendengarkan hal berbeda, seperti sesuatu yang datang dari dunia lain tapi sangat menyenangkan dan hampir tak terlihat aneh bahkan dengan semua keanehan yang telah menyertai.

Siapa yang tak tersentuh mendengar Oh Comely, saya tak tahu lagi harus bagaimana mengendalikan emosi setelah mendengarnya. Salah satu hari paling menyenangkan saya mungkin pada saat menemukan album ini dalam bentuk piringan hitam 3 tahun lalu. Saya ingat beberapa lama sebelumnya saya sudah menanamkan dalam pikiran bawah sadar saya, suatu hari saya harus mendapatkan album ini. Dan satu siang di hari sabtu yang panas sejak beberapa lama membenamkan pikiran jahat macam begitu di kepala. Takdir seperti menuntun saya menemukan album ini. Pendek kata saya dapatkan album ini meskipun dalam bentuk reissue, saya memaklumi karena hampir mustahil juga dapat first press album ini. Itu bisa jadi salah satu hari paling membahagiakan bagi saya.

Saat memutar pertama kalinya pada turtable, saya harus menghela satu-dua nafas panjang sebelum masuk dalam sketsa kesedihan dan dunia Jeff Mangum yang gelap dan getir. Mengalir bersama harapan-harapan yang timbul tenggelam, dikecewakan lalu diberikan keriangan yang cukup menyimpulkan satu dua senyum. In the aeroplane over the sea menjelaskan bagaimana dunia yang busuk sekaligus bagaimana kita tetap bisa menjaga harapan dan terkadang percaya pada keajaiban.

Dan akhir-akhir ini yang baru saya pahami adalah album ini membuat saya kembali untuk mengingat dan memohon kepada Tuhan. Saya semakin jauh kepada Tuhan dan dan bait-bait ini mengingatkan kembali kepada Tuhan dengan cara yang begitu subtilnya.

And when we break, we'll wait for our miracle
God is a place where some holy spectacle lies
When we break, we'll wait for our miracle
God is a place you will wait for the rest of your life

Bagiamana kemudian saya tidak bertanya dan menyalahkan diri sendiri yang terkadang seringkali melupakanNya dan terlalu banyak memperkarakan dunia, kemudian hanya akan kembali memohon ketika merasa dikalahkan oleh hidup. Waktu-waktu yang membuat saya sadar untuk menemui alasan segera bersujud pada Tuhan saya. Pada akhirnya Tuhan adalah tempat Anda akan menunggu selama sisa hidup Anda.

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY