Review

Bukan Pasar Malam

Bukan Pasar Malam

Bukan Pasar Malam, sebuah novel roman karya Pramoedya Ananta Toer. Tipis dan terbungkus warna kelabu dengan gambar foto pasar malam serta seseorang yang berdiri tegak di sana, entah siapa. Tidak cukup menyita perhatian, tidak mencolok. Namun setelah dicermati, di bungkus bagian belakang tertulis “sumbangan Indonesia untuk Dunia”. Menarik, membuat sebuah pertanyaan: apa artinya?
Halaman-halaman pertama sudah membuat imajinasi bekerja. Cara mendeskripsikan keadaan sangat jelas dan dengan mudahnya tergambarkan. “Panas waktu itu. Dan mobil yang berpuluh ribu banyaknya itu menyemburkan debu pada badan yang berkeringat. Dan debu yang merupakan berbagai macam campuran: reak kering, tahi kuda, hancuran ban mobil, hancuran ban sepeda dan becak dan barangkali juga hancuran ban sepedaku sendiri yang kemarin meluncuri jalan-jalan yang kulalui kini. Dan debu yang berpacaragam itu melengket bersama keringat seperti lem pada badan.”

Novel yang menceritakan akhir kehidupan seorang ayah yang nasionalis yang tidak mau menjadi perwakilan rakyat, karena pikirnya itu hanya panggung sandiwara. Dan dia tidak suka menjadi badut, sekalipun badut besar. Seorang ayah yang menderita penyakit keras, disisa akhir nafasnya ditemani anak-anaknya walaupun tidak semua serta tidak pula dengan seorang istri karena lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Kebahagiaan terakhirnya dimulai ketika, sebutlah, anak kesayangannya yang seorang tentara datang membawa sebuah permohonan ampun atas pedasnya isi surat terakhir yang dikirim untuknya.
 
Rengekan “es” yang juga menjadi hadiah indah dihari-hari terakhirnya di rumah sakit, karena bisa mengunyah es artinya melanggar aturan. Rintikan air mata anak-anaknya yang tidak pernah ia dengar, selalu menemani. Tidak ada yang dilakukan selain menunggu hari akhir datang menjemput. Menghabiskan sisa waktu dengan gemuruh batuk bersama pemandangan dinding rumah sakit, meninggalkan rumah yang rusak dan menghitung sembilanpuluh sembilan butir jagung.

"Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Di manapun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit."
"Dan dengan tiada terduga-duga malam cepat-cepat datang. Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana..."

Bukan Pasar Malam seperti memberi pesan kepada kita bahwa hidup bukan lahir hanya untuk bersenang-senang lalu kembali “pulang”, seperti pergi ke Pasar Malam. Di dunia ini ada perkara yang perlu diperkarakan atau diselesaikan bahkan mungkin malah dibiarkan begitu saja karena begitu jalan terbaiknya. Sosok Ayah di Bukan Pasar Malam mengajarkan kita bagaimana hidup menjadi sebaik-baiknya manusia. Menjadi manusia yang bermanfaat untuk manusia lainnya, kebahagiaan atau kepentingan diri sendiri tidaklah terlalu darurat untuk diperjuangkan ketimbang kebahagiaan dan kepentingan manusia lainnya. Seperti kita dilahirkan hidup, ternyata sebagai jalan kebahagiaan manusia lain.

"Antara gelap dan lembayung sinar sekarat di barat yang merah..."

Sebuah langkah yang tepat untuk pembaca pemula buku karya Pramoedya Ananta Toer. Awalnya ku pikir akan berat, karena Sang Penulis. Tapi ternyata bahasa dan alur ceritanya cukup ringan. Ditambah lagi lembarannya yang tipis dibanding buku-buku karya Mbah Pram yang lainnya, cukup menggoda. Walaupun tetap saja, tidak ku selesaikan dalam satu malam.

Apa Reaksi Anda ?



Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY