Cerpen

Rumah Tanpa Suara

Rumah

Bogor bukanlah kota kelahiranku, namun disinilah sekarang hidupku mulai ditempa, semua diasah disini. Tentang harapan, persahabatan, hidup dan mimpi.

Hari itu kereta api Matarmaja jurusan Malang Jakarta mengantarkanku kembali ke perantauan. Pukul tiga pagi kereta tiba di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Aku bersama dua orang temanku Galang dan Raka, yang sama-sama anak rantau dari kota kecil di Jawa Timur, Ponorogo. Galang merupakan sahabatku sejak kelas satu SMA, sedangkan Raka adalah teman yang kukenal ketika masuk ke Perguruan Tinggi. Hari masih sangat gelap dan kami harus menunggu KRL (Comuter Line) menuju Bogor.
“Ah gue mau tidur dulu di masjid, ntar kalo keretanya dateng, bangunin gue ya.” Ucap Galang dengan logat Jawa sambil berjalan menuju mushola stasiun. Anggukanku pun menjawab semua instruksi Galang. Pukul 05.45 WIB, KRL jurusan Bogor tiba, gerbong-gerbong kereta masih begitu lengang, bahkan terasa hampir kosong. Akhirnya kami bertiga segera melaju menuju Bogor dengan KRL tersebut.
Hari itu hari Jum’at, hari pertama kali menginjakan kaki di Bogor setelah libur panjang semester genap. Semester ini kami bertiga menempati sebuah rumah kontrakan sederhana, yang hanya memiliki 1 kamar, ruang tengah, ruang depan, dapur dan kamar mandi. Sebelumnya aku hanya tinggal dengan Galang di kost berdua. Setiba di Bogor, mereka pun istirahat sebentar. Seusai istirahat Raka dan aku mengambil peralatan untuk bersih bersih dan segera membereskan rumah yang sudah ditinggal lebih dari 6 bulan oleh pengguni lamanya. Raka yang membersihkan dapur dan kamar mandi, aku membersihkan ruang tengah dan kamar. Namun, Galang masih terlelap dalam tidurnya. Ia hanya terbangun sebentar dan melanjutkan tidur lagi tanpa rasa ingin membantu.
“Enak amat tu anak tidur, tidur mulu orang yang lain pada kerja juga.” Gumamku dalam hati. “Den, lu nggak bangunin Galang?.” Teriak Raka dari belakang. “Udah ka, katanya ntar aja dia bantuin beres-beresnya!” jawabku sekenanya. “Oh yaudah lah.” Timpa Raka. Setelah semua beres, akhirnya mereka pun terlelap dalam lelah.
Hari hari selanjutnya berjalan biasa saja. Sewajarnya seorang mahasiswa biasa. Aku dan Raka seorang Mahasiswa Informatika yang selalu berkutat dengan laptop masing-masing. Sedangkan Galang adalah Mahasiswa Perikanan yang selalu sibuk dengan laporannya. Kehidupan kami berjalan normal sebagai seorang teman. Namun, hampir setiap hari Aku yang memasak nasi, terkadang Raka. Begitu juga dengan urusan bersih-bersih rumah.
“Ka, lu nggak pernah ngomong ke Galang? Sekali-kali dia suruh masak, bersih-bersih, jangan senaknya mulu.” Kataku ke Raka. “Gue udah pernah ngomong kok, ntar aja lihat gimana kedepannya. Jalani aja dulu.” Jawab Raka. “Yaudah deh, tapi lama –lama kesel juga kalau gini terus.” Ucapku.
Pada awalnya memang tidak ada masalah diantara kami. Namun suatu ketika, Bogor diguyur hujan lebat hari itu. Aku yang juga termasuk salah satu anggota organisasi kampus, harus terjebak hujan setelah selesai rapat. “Ah paling di kontrakan ada yang masak, gue langsung balik aja lah. Perut udah keroncongan.” Pikirku dalam hati. Setelah lama menunggu hujan reda, akhirnya aku memutuskan untuk nekat menembus hujan. Aku akhirnya berlarian menuju kontrakan yang berjarak sekitar 500 meter dari kampus. Alih-alih ada nasi di kontrakan, aku malah menjumpai kontrakan yang sangat berantakan, sepatu berserakan, sampah penuh dengan bau yang sudah membusuk. Setelah masuk, ternyata Galang sedang tiduran seperti biasa. Sontak saja aku yang sedang lelah ditambah suasana kontrakan yang teramat parah langsung marah. “Capek kalo kayak gini terus, emang gue pembantu lu apa? sesekali bantu dong beresin kosan, seminggu sekali kek, buang sampah atau apa. Masa mau enaknya terus.” Kataku sambil marah-marah dan masih dalam keadaan basah kuyup. Galang terdiam tanpa suara di dalam kamar. “Sesekali mau mengertilah keadaan kontrakan, masa cuma gue sama Raka terus yang ngurus. Kita disini dititipin buat ngurus rumah ini.!!” Sambungku, yang sekali lagi tetap tanpa jawaban.
Hari itu hujan berhenti, tiba tiba aja Galang berdiri mengambil sampah lalu pergi membuangnya. Sesampainya di rumah “Puas lu?”. Ucap Galang di depan wajahku. “Udah tau orang lagi capek, datang marah-marah aja.” Sambung Galang. “gue juga capek kali Lang.” Jawabku. Hari itu kemudian sunyi tanpa suara apa apa, dan mereka kembali melanjutkan aktifitas masing-masing tanpa sepatah katapun.
Keesokan harinya, “Lang, mungkin maksud Herdiyan tu kita harus mau bantu buat ngurus rumah ini, sesekali kamu mau kerja buat kita sendiri juga kan. Kita disini gak cuma kuliah dan seneng seneng.” Nasehat Raka ke Galang. “tapi gue lagi capek Ka, nggak ngerti apa. Datang langsung aja marah – marah”. Jawab galang. “Iya sih, tapi coba pikir, selama ini lu disini udah ngapain aja? Kita selama ini nggak nyuruh lu, berharap lu buat sadar sendiri.” “Ah sudah lah” jawab galang sambil beranjak pergi begitu saja.
Waktu berjalan begitu saja. Sudah tiga bulan sejak kejadian tersebut semua berjalan biasa saja, namun hampir tak pernah ada obrolan lagi diantara mereka. Hampir setiap hari hanya suara tv yang menghidupi rumah ini. Ketika aku di rumah, dan galang pulang kuliah hanya ada kata Assalamualaikum dan jawabannya, itupun sesekali. Kemudian Galang masuk kamar dan seperti biasa berkutat dengan laptop Toshiba hitamnya. Sedangkan Raka, memang tak banyak bicara, kecuali ada hal yang perlu dibicarakan.
“Rasanya rumah kontrakan sepi sekali ya, udah hampir setahun kaya gini terus. Haruskah gue minta maaf?” Gundahku suatu hari ketika menuju jalan pulang.
“Assalamualaikum”, ucap ku ketika sampai di rumah dan tak ada balasan. Namun, apa yang aku lihat kembali mengejutkan. Lagi-lagi rumah berantakan padahal baru kemarin lusa aku sama Raka membersihkannya. Pupus sudah niatku untuk meminta maaf, “capek rasanya kalau kaya gini terus, tapi masa iya gue harus pindah dari sini?, gue yang nyari kontrakan, gue yang ngurus, gue juga yang harus mengalah?”. Tiba-tiba suara pintu membuyarkan lamunanku, Galang dengan wajahnya yang selalu ditekuk masuk ke rumah. Seperti biasa dia langsung masuk kamar tanpa rasa bersalah.
“Lang, bantuin beres-beres yuk” ajakku. “Ntar aja, masih capek ini.” Jawab Galang dengan wajah muram. Tanpa menunggu lagi, aku bersih – bersih sendiri dengan agak kesal. Seusai bersih-bersih, aku membuka obrolan. “Lang, semester depan, mau tetap disini atau mau pindah?” Tanyaku.“Gampanglah.” Jawabnya sekedarnya dengan nada sewot. “Oh, yaudah kalo kamu pindah gue mau ngajak teman kesini.” Jawabku terbuka. Kemudian rumah itu kembali sunyi seperti biasa.
Setahun sudah, rumah itu terkesan tanpa suara. Dari luar mereka terlihat seperti biasa. Namun di dalam, semua berbeda tanpa kata, tanpa canda, dan tanpa tawa. Semua hambar tanpa rasa, setahun rumah itu tidak berwarna yang di akhiri dengan kepindahan Galang dan Raka. Raka sendiri pindah karena ajakan sahabat-sahabat dekatnya. Rasanya kata maaf yang kulontarkan di hari Raya Idul Fitri tidak ada artinya, tanpa balasan dari Galang. Pepatah bilang, “Gara -gara nila setitik rusak susu sebelenggu”, mungkin tepat untuk menggambarkan keadaan kami. Persahabatan yang terjalin cukup lama itu telah rusak karena perkara kecil yang sama-sama tidak ada yang mau mengalah.

Dipublikasi pertama di blog penulis.
Link : link

Apa Reaksi Anda ?



Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY