Review

Menjadi Gelisah Bersama Gendis

Sapardi

Judul : Perihal Gendis

Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama oktober 2018


Membaca Sapardi adalah membaca ulang ingatan saat saya pertama kali bersentuhan dengan puisi, sekira sewaktu SMA. Saya tinggal di kota kecil, sehingga tak banyak referensi bacaan yang saya dapatkan. Membaca Sapardi saja sudah terlihat sesuatu yang berbeda diantara kawan-kawan. Saat itu era pencerahan internet ada pada era yang sangat awal. Saya membaca puisi Sapardi dalam sebuah bilik warnet. Saya pertama kali membaca puisi berjudul “Aku Ingin”, saya ingat betapa saya menyesapi tiap bait dalam puisi tersebut dan kemudian saya putuskan untuk mengeprint puisi tersebut untuk saya baca di rumah. Saya tentu saja tak menyia-nyiakan kertas print hanya untuk satu puisi saja, saya print juga beberapa puisi Saparti lain untuk memenuhi kekosongan kertas di bawahnya.

Sampai di rumah barulah saya membaca Hujan Bulan Juni ataupun Yang Fana Adalah Waktu yang ada pada kertas yang sama yang saya print. Bagi seorang anak SMA menyalahgunakan puisi Sapardi untuk merayu lawan jenis adalah hal yang mudah. Saya harus akui ini saya pernah melakukan hal itu. Ia dalam tataran sederhana yang menggoda untuk digunakan untuk itu.

Sampai sekarang saya selalu mengurungkan niat untuk membaca Hujan Bulan Juni versi novel ataupun menonton versi filmnya. Semua itu sebenarnya beralasan sangat sepele, saya tidak mau merusak impresi awal saat membaca puisi Sapardi untuk pertama kali. Saya takut setelah membaca versi novel ataupun menonton versi filmnya kemudian akan mengubah impresi tersebut yang sudah terbangun sejak lama. Memang kadang pikiran saya sangat tak beralasan, tapi ini hanya usaha saya menjaga perasaan bertahun lalu yang menjadi cetak biru saya memahami sebuah puisi.

Saya tidak banyak membaca sebuah buku puisi, buku kumpulan puisi terakhir yang saya baca adalah Di Hadapan Rahasia karya Adimas Immanuel, itupun sudah cukup lama. Sehingga mungkin review ini akan terasa garing, saya hanya akan menulis sedikit yang saya tahu. Saya juga tak membaca buku-buku Sapardi lain, sehingga saya tak akan punya perbandingan. Kebetulan saya hanya sempat melihat sekelebat buku Perihal Gendis ini dan saya langsung penasaran dengan sampul yang terlihat sangat khas anak-anak remaja.

Andil utama kepenasaran saya memang karena sampul ilustrasi Gendis garapan Suprianto ini, yang tak berlebihan dengan latar putih dan sosok gadis berambut kepang dua dengan potret dari belakang. Tapi semuanya dalam pikiran saya sebenarnya tidak sesederhana itu. Tidak sesederhana mengambil lalu memasukkan ke dalam daftar belanjaan. Selalu ada hal yang sepertinya akan mendorong untuk tidak perlu lagi membaca Sapardi. Pikiran semacam “Bagaimana nanti jika tidak sesuai ekpektasi?”, “Bagaimana jika nanti perasaan lama itu terkikis?.”

Rasa penasaran yang menggerakkan saya kini untuk menbaca lagi karya-karya Sapardi, saya harus mengumpulkan banyak keberanian karena takut merusak impresi awal yang sudah saya bangun mengenai Sapardi. Saya membuka sampul pertama buku sambil menghela napas panjang. Saya tidak membuat semua ini tampak dramatis tapi saya memang menceritakan perguilatan batin saya sebelum memutuskan membaca ini. Lagipula buat apa membaca buku harus sedrama itu. Tidak perlu, saya juga tidak ingin seperti itu hanya perkara membaca.

Membaca buku puisi seperti ini memang bisa habis dalam sekali duduk, halamannya cuma 56 saja ditambah kalimat-kalimat dalam puisi tak pernah terlalu panjang untuk dibaca. Benar memang hanya perlu dinikmati.

Dengan kematangan seperti sekarang Sapardi justru mengambil tokoh seorang gadis kentang beranjak dewasa yang sendirian di rumah karena ditinggal ayahnya yang pergi ke selatan dan ibunya yang menyusul ke utara. Beliau justru tak mengambil cerita hidup yang lebih berat dalam menghadapi dunia. Sapardi hanya menceritakan kesepian seorang gadis kecil di tengah kematangan dirinya mencipta puisi. Itu adalah hal menarik lain dari buku ini,

Gendis dalam keheningannya menyapa dan bercakap dengan apapun yang ditemuinya, tapi Gendis tak hanya merupa gadis 12 tahun. Ia hanyalah media untuk perenungan dalam sunyi yang sesungguhnya. Ia bisa mewujud cinta, ia bisa mewujud kegelisahan atau bisa menjadi kekecewaan.

Dengan segala hal yang Sapardi lekatkan pada sosok Gendis, tampaknya gadis kecil ini mendewasakan kita dengan caranya yang lugu, dengan percakapannya dengan ulat dan burung. Gendis serupa sebuah upaya kedewasaan yang dibalut keluguan.

Ciri Sapardi memang masih terasa dengan kalimat-kalimatnya yang tak berusaha untuk terlalu tinggi. Saya lega akhirnya pikiran saya tak terjadi, impresi saya tak berubah sedikitpun setelah membaca ini. Malah ini sangat menyegarkan di balik jarangnya saya membaca buku puisi.  Hanya perenungan setelah membacanya akan ada dalam kepala saya sampai berhari-hari selepas membacanya. Bahkan terkadang ketika saya melihat seorang gadis kecil, saya menerka, mungkin sosok gendis seperti itu.


Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY