Review

Wesel Pos dan Beberapa Hal yang Menolak untuk Sama

weselpos

Judul : Wesel Pos
Pengarang : Ratih Kumala
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama Juni 2018

Membaca judul buku ini mungkin membuat beberapa orang kemudian mencari pengertianya di mesin pencari. Orang zaman sekarang tentu saja sudah sangat jarang menggunakan layanan ini. Aktifitas mengirim uang melalui pos merupakan cara terbaik pada zamannya sebelum era rekening bank dan proses transfer uang semakin mudah. Saya juga tidak hidup di zaman tersebut dan belum pernah menggunakan jasa wesel pos. Tentu saja ini menarik, tapi buku ini tak akan membahas pengertian, sejarah, ataupun mekanisme layanan wesel pos. Ia akan membahas tentang kehidupan lainnya di sebuah kota besar bernama Jakarta.

Ratih Kumala sebenarnya hanya menulis klise tentang Jakarta, ia hanya menceritakan seperti yang banyak dilakukan orang. Bahwa Jakarta itu busuk, orang-orang dengan banyak kedok, dan yang paling ikonik sejak zaman dulu adalah cerita orang kampung yang kagum akan megahnya Jakarta. Semua klise itu ada dalam buku ini. Dan memangnya apa yang belum pernah diceritakan mengenai Jakarta?.

Tapi kalian tidak perlu khawatir untuk menjadi bosan lebih cepat dengan semua cerita kawakan Jakarta. Ratih membangun garis besar sudut pandang yang sama sekali tidak umum. Ia bercerita semua itu dari perasaan selembar wesel pos. Cerita dari sebuah benda atau layanan, apapun itu, bisa berarti keduanya. Layanan yang sudah menemui senjakalanya untuk menjadi hampir dikenang, tapi masih ada sedikit orang yang menggunakannya. Dan berkali juga beberapa inovasi dalam upaya untuk menyelamatkannya.

Elisa adalah tokoh yang dinarasikan si wesel pos, ia adalah orang kalah yang datang ke Jakarta. Ia datang untuk menemui kakaknya yang bekerja di Jakarta dan menahun tidak ada kabar. Si kakak hanya sering mengirimkan uang melalui wesel pos, dan selembar wesel pos berisi alamat pengirim itulah bekal ia mencari kakaknya di belantara Jakarta.

Elisa sudah kalah sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, karena terlalu percaya pada orang. Ia menitipkan tasnya pada seseorang dan tas itupun tak kembali ke tuannya sejak itu. Tipikal sinetron yang sudah terlalu sering memenuhi layar kaca.

Semua kisah kemudian mengalir dari raipnya tas Elisa tersebut. Bagaimanapun saya tak akan menceritakan ulang mengenai kisah dalam buku ini. Saya hanya akan memberikan sedikit pandangan saya yang sebisa mungkin tidak untuk menceritakan ulang mengenai isinya. Selayaknya sebuah review seharusnya mengajak kita untuk membaca karya tersebut, tidak berhenti disini.

Yang membuat novel ini berhasil untuk menjadi terlihat berbeda meski dengan kemasan yang sejatinya banyak dibahas adalah keberanian. Semua orang bisa menulis tentang kota sebangsat Jakarta, yang membedakan adalah sudut pandang. Ratih sendiri saya yakin sudah cukup muak dengan apa yang ia konsumsi mengenai kota ini, ia juga tinggal di kota ini dan saya yakin pula ia sudah mengamati cukup banyak.

Ratih Kumala berhasil menggambarkan dua keadaan, dimana zaman yang berbeda dengan semua hal yang mampu dilakukan wesel pos. Ratih juga berhasil menarasikan zaman hari ini, dimana teknologi telah banyak mengubah wajah zaman. Setidaknya itulah yang keberhasilan kesekian dari novel ini.

Pada akhirnya saya berpikir novel Wesel Pos ini tidaklah berbicara mengenai hal-hal klise, malahan ia bicara mengenai kedekatan kita yang keras kepala ini untuk tetap mencari beras di Jakarta. Seperti obrolan yang seharusnya, terkadang tidak butuh hal-hal yang baru-baru amat. Obrolan basa-basi biasa saja yang setiap hari ditanyakan. Pembicaraan yang harus dihidupi bersama kawan dekat.

Novel ini berhasil untuk menggali sedikit kemanusiaan yang ada di Jakarta dan berhasil memukau dengan segala konsistensinya dalam bercerita. Tentu bukan hal mudah untuk bercerita dengan sudut pandang seperti ini. Berikanlah sedikit ruang untuk beberapa hal menyentuh yang dibahas di buku ini.

Apa Reaksi Anda ?



Dyan Hendrawan (Pewarta)

Terobsesi membebaskan hujan dan senja dari tirani puisi.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY