Review

Melihat Api Bekerja

Sampul Buku Kumpulan Puisi Melihat Api Bekerja Karya M. Aan Mansyur (2015)
Quote

"Warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus. Langit paham hal-hal semacam itu. Kata-katamu bicara terlalu banyak tapi tidak pernah cukup. Langit selalu cukup dengan cuaca dan pertanyaan-pertanyaan" - Menenangkan Rindu.

Judul             : Melihat Api Bekerja
Penulis          : M. Aan Mansyur
Cetakan        : Pertama, 2015
Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku    : 160 hlm; 20 cm

Penulis, M. Aan Mansyur, merupakan penyair muda kelahiran Bone, Sulawesi Selatan. Ia bekerja sebagai relawan di Komunitas Ininnawa dan pustakawan di Katakerja, Makassar. Karya Aan Mansyur di dunia kesusastraan meliputi sajak, prosa, dan esai yang mana telah banyak dipublikasikan dalam bentuk buku, antara lain : Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012); Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012); Kukila (2012); dan Kepalaku : Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014).
Buku kumpulan puisi ini lahir dari hasil kolaborasi antara Aan Mansyur dengan seorang ilustrator yang juga merupakan desainer grafis, Muhammad Taufiq (Emte). Buku ini secara keseluruhan memuat 54 buah puisi berilustrasi. Judul buku sendiri diambil dari judul puisi ke-46, yaitu Melihat Api Bekerja. Sebelum menceburkan diri ke dalam lautan sajak-sajak Aan Mansyur, menilik pengantar yang disampaikan oleh Sapardi Djoko Damono dengan judul “Mendengarkan Larik-larik Aan Mansyur” akan sangat membantu untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana cara buku ini bekerja.
Aan Mansyur dalam Melihat Api Bekerja secara umum berusaha menguraikan dielaktika terhadap perubahan yang ada di sekitarnya terkait rupa-rupa hal, seperti eksistensi kehidupan, kematian, percintaan, kritik sosial masyarakat, juga termasuk interpretasi karya sastra penyair lain yang menginspirasi dirinya. Kumpulan puisi ini dibuka dengan “Belajar Berenang” dan ditutup oleh “Hal-hal yang Dibayangkan Sajak Terakhir Ini Sebagai Dirinya”. Nuansa yang diciptakan oleh puisi-puisi di dalam buku ini hampir seluruhnya berwarna kesedihan, akan tetapi kita dapat merasakan bahwa kesedihan di sini, dinikmati. Ya, dinikmati - dalam bentuk sarkasme-sarkasme yang mungkin bisa membuat kita nyengir saat membacanya.

Menikmati kumpulan puisi Melihat Api Bekerja ini memang gampang-gampang susah. Hampir semua puisi dirajut oleh Aan Mansyur dengan diksi yang membutuhkan konsentrasi lebih untuk membongkar maknanya. Pilihan kata yang digunakan Aan Mansyur untuk membangun retorika sajak-sajaknya yang sebagian besar merupakan alegori terasa tidak biasa, seringkali nyeleneh, absurd, tak ragu main tabrak, tapi ajaibnya membuat kita semakin ketagihan dengan permainan diksinya. Misalnya, saat Aan Mansyur ingin mendeskripsikan “mata” pada puisi “Telanjang di Depan Cermin”
“Lekuk teluk bibirku mencibir dua danau di atasnya. Tetangga yang tidak pernah saling mengunjungi. Sepasang kesepian.” – Telanjang di Depan Cermin.
Satu waktu, Aan Mansyur berusaha menulis dengan rapi, berima, dan teratur seperti berikut :
“Aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasan perasaan-perasaan yang lembap. Aku percaya ada perihal semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu yang bertahan di alir air sungai, atau badai yang lembut. Aku tahu ketelanjangan tempat bersembunyi bunyi yang lebih nyaring daripada sunyi.” – Mendengar Radiohead.
Namun, di lain waktu, ia terlihat tak ingin ambil pusing dan membiarkan kata-kata berserakan begitu saja seolah sekonyong-konyong muncul dan menghujan dari arah yang tak disangka-sangka, menuntut dijejalkan menjadi larik dan bait. Aan Mansyur juga sering menuliskan puisinya tanpa terbebani hubungan kausalitas. Dia menikmati loncatan-loncatan idenya yang ada kala membuat kita terkaget-kaget dan bertanya-tanya : bagaimana bisa muncul kata-kata ini sebagai lanjutannya? Berikut penggalan puisi yang menarik.
“Begini ramalan cuaca pekan ini : Besok, udara lebih cerah dari senyum bayi. Lusa, langit remaja jatuh cinta – ceria, panas, dan mengumpulkan hujan. Kamis, penuh awan berbentuk tanda baca. Jumat, curah dari awan mirip kebun binatang. Sabtu, alam penuh api dan apapun yang menyerupai itu. Minggu, tidak ada cuaca.

Hati-hati. Angka bunuh diri langit bisa tiba-tiba meningkat. Begitu pun dengan kelembapan dan keasinannya. Tetapi, aku akan berjalan-jalan di cakrawala ketika matahari mendarat di topiku.” – Menjatuhkan Bintang-Bintang.
Meskipun sering tidak berhubungan secara kausal, bahkan kadang mempertentangkan ide-ide yang dibawa ke dalam suatu larik atau bait, Aan Mansyur berusaha untuk mempertahankan nuansa yang dibangun dalam tiap puisinya agar tetap konstan sebagaimana yang juga dirasakan oleh Sapardi dan diungkapkannya dalam tulisan pengantar. Beberapa puisi bahkan terlihat seperti tak berhubungan antara isi dengan judulnya, seperti pada “Menonton Film” dan “Mendengar Radiohead”.
Alih-alih sedang memampatkan kata-kata menjadi puisi, Aan Mansyur lebih terasa seperti sedang mendongeng di depan kita dan ia menantang pembaca untuk mengikuti dongengnya yang liar juga penuh kejutan. Kadang kita ditinggalkan dengan satu kesan yang jelas atas kesimpulan isi suatu puisi, tapi kadang ia juga tega meninggalkan kita dengan perasaan yang menggantung atau di-jegal di tengah-tengah sehingga kita membatin : tunggu, itu tadi apa, ya? Memberi kita nuansa yang bentuknya tidak mau dipadatkan, seolah-olah Aan Mansyur tidak peduli bahwa mungkin pembaca kebingungan memahami larik-lariknya.
Hanya segelintir puisi yang berbahasa “normal”- yang bisa dinikmati sekali baca -, salah satunya “Mengurus Surat Keterangan Hilang”. Selebihnya, jika ingin tetap bisa menikmati puisi Aan Mansyur di buku ini, saya sarankan agar membiarkan saja sebagaimana apa adanya saat Anda menemukan sajak yang belum berhasil Anda pahami maksudnya, misalnya puisi “Menenangkan Rindu”. Jika terlalu dipikirkan, maka sangat mungkin Anda akan lelah dan justru berakhir tidak dapat menikmati sajak-sajak indah Aan Mansyur. Terkadang, dengan membiarkan apa adanya tanpa berusaha terlalu keras untuk mengerti adalah cara terbaik untuk menikmati sesuatu yang belum kita mengerti.
“Bumi tidak butuh banyak bulan. Bulan sendiri, pandai, dan kekanak-kanakan. Dia bisa jadi pisang ambon, mangkuk pecah ibumu, atau martabak utuh jika kau lapar. Dia akan menertawai kerakusanmu atau menjadi penuh ketika kau kosong" - Menenangkan Rindu. 
Selain kumpulan sajak Aan Mansyur, buku Melihat Api Bekerja juga menawarkan sajian lain yang tak kalah menarik, yakni kumpulan lukisan karya Emte. Gaya ilustrasi Emte yang out of the box menjadi partner yang pas bagi sajak-sajak Aan Mansyur. Sajak dan lukisan terlihat serasi saling mengisi meskipun ilustrasi Emte tidak selalu secara persis menransformasikan tiap sajak Aan Mansyur yang diwakilinya. Keduanya seakan seprinsip untuk berusaha mempertahankan nuansa, hanya saja menggunakan medium ekspresi berbeda. Baik Aan Mansyur maupun Emte asyik bermain dengan “mainan”nya sendiri, namun dalam satu kode warna yang serupa sehingga sangat mungkin untuk menikmati sajak Aan Mansyur dan ilustrasi Emte sebagai dua karya yang terpisah.

Menyusuri puisi demi puisi di dalam Melihat Api Bekerja mungkin akan sedikit menantang, tetapi tantangan yang ditawarkan sangat layak untuk ditaklukan. Mendengarkan larik-larik racikan Aan Mansyur akan membawa kita berpetualang ke dalam fragmen dunia yang lain sehingga sangat sayang untuk dilewatkan.


Apa Reaksi Anda ?



Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY