Review

Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia : Max Havelaar

Cover buku Max Havelaar (image credit by http://www.kompasiana.com)
Quote

Tugas manusia adalah menjadi manusia - Max Havelaar

Kalau ada istilah don't judge a book from cover itu mungkin istilah biasa untuk menilai sebuah buku lewat sampul yang bagus atau ilustrasi yang menarik. Hal yang berbeda saya rasakan ketika mendapati buku Max Havelaar, saya dipaksanya membeli dengan satu kalimat yaitu "Tugas manusia adalah menjadi manusia".  Dengan cover wajah Multatuli di sampul depan dengan latar warna kuning contras semakin membuat penasaran tentang isi didalamnya. Setau saya ada dua penerbit yang menerbitkan buku ini, penerbit Mizan dan Narasi dan saya membeli yang terbitan Narasi.  Secara subyektif saya melihat sampul terbitan mizan terlalu merepresentasikan isinya, lain dengan terbitan narasi yang membuat penasaran hanya dengan sosok wajah Multatuli . 

Dimulai dari isi awal buku memang berkutat  dengan kopi, makelar kopi bernama Batavus Droogstoppel, menghiasi lembar demi lembar halaman awal. Pada bagian ini kalian harus cukup sabar untuk meneruskan membaca, karena hampir setengah buku saya garuk-garuk kepala tidak mengerti maksudnya.  Selain itu cerita-cerita kehidupan Multatuli yang diterjemahkan sebagai sebuah karater yang bernama Max Havelaar, bercerita tentang suka duka seorang Max menjalani tugasnya sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang diperintah oleh seorang Gubernur Jendral sebagai perwakilan tertinggi pemerintah di bawah perintah Ratu Belanda yang berpusat di Batavia (Jakarta). Karir Max di mulai dari seorang pegawai pemerintah yang ditugaskan di beberapa wilayah Nusantara, mulai dari Natal, Sumatera Utara, Bukittinggi, Padang dan kemudian di pindah ke Jawa, tepatnya di Distrik Lebak, Banten, Jawa Barat. Di tempatnya yang terakhir Max banyak menceritakan lika-liku kehidupan serta dinamika pemerintahan. Dinamika-dinamika kehidupan max yang harus melihat ketidakadilan dalam pemerintahan memeras rakyatnya dan dalam beberapa waktu yang tidak lama. Max bertekad dengan kedudukannya saat itu untuk membela dan mengutamakan kepentingan rakyat jelata. Diceritakan juga oleh istrinya, bahwa gaji Max, yang didapat dari pemerintah Hindia Belanda kadang habis karena banyak diberikan kepada orang – orang di sekitarnya yang membutuhkan pertolongan. Max tidak tanggung – tanggung membela rakyat yang lemah bahkan beberapa kebijakan dari pemerintah Hindia Belanda yang sekiranya merugikan rakyat, dia tentang habis – habisan.

Selanjutnya adalah drama Adinda dan Saidjah yang cukup fenomenal, roman ini diceritakan Multatuli dengan menyambung kehidupan yang ada di Banten yang sebagian besar mata pencaharian sebagai petani dan menggembala kerbau. Sayangya karen pemerintahan kolonial lewat bupati setempat, berkali-kali Kerbau milik Saidjah diambil paksa oleh pemerintah kolonial. Hal itu membuat Ibu dari Saidjah tertekan dan jatuh sakit, tidak lama kemudian meninggal. Karena ditinggal, Ayah Saidjah pun stress lalu lari ke luar kampung dan tidak pernah kembali. Dalam kesedihan ditinggal kedua orang tuanya, Saidjah tumbuh menjadi pemuda dan menjalin kasih dengan Adinda, sahabatnya sejak kecil. 

Saidjah lalu pergi ke Batavia, dia mengumpulkan uang untuk kelak melamar Adinda. Setelah bertahun-tahun Saidjah kembali ke kampungnya. Namun bukan cinta, tetapi kekecewaan yang menunggunya. Saidjah mendapati Adinda dan ayahnya sudah tak ada di kampung itu. Ayah dan anak itu lari karena tak bisa membayar pajak dari penguasa. Setelah mencari informasi ternyata Adinda dan Ayahnya ikut pertempuran di seberang lautan, pencarian yang panjang ternyata berbuah pahit. Saidjah menemukan tubuh Adinda yang  penuh luka. Kondisinya terbunuh dan diperkosa oleh serdadu belanda. 

Melihat kondisi kekasihnya yang telah terbunuh lalu Saidjah berteriak dan murka, secara sepontan Saidjah berlari ke arah tentara dan tubuhnya tertusuk oleh senjata tentara yang ada  disekelilingnya.  Adinda dan Saijah tewas. Cinta mereka yang dulu pernah diikrarkan tak pernah bersatu. Keduanya rakyat miskin korban kolonialisme bangsa asing dan keserakahan pejabat dari bangsa mereka sendiri.

Cerita yang terakhir adalah milik Multatuli yang mengambil alih semua tokoh dan cerita yang ditulisnya untuk menampar pemerintah William Ketiga. Buku ini memang cukup fenomenal, diakhir buku ini adalah potongan terakhir rajutan yang awalnya sumbang ketika dibaca setengah-setengah. Dimulai dari  hubungan antara makelar kopi yang menganggap negeri Hindia Belanda yang kelam tidak beragama malah justru memasok pundi-pundi kekayaan bagi negaranya khususnya para makelar kopi.  Karena penghasil terbesar kopi pada saat itu adalah di Hindia Belanda. Anggapan dari mayoritas belanda ditepis dengan sangat cerdas oleh Multatuli lewat buku ini dia yang seorang belanda yang notabene diuntungkan lewat penjajahan, yang notabene pemasukan paling besar negara ketika krisi perang, menunjukan betapa kelamnya negara mereka sendiri lewat kolonialisme. Saya sebagai pembaca buku ini jadi tau, Tugas sederhana manusia adalah menjadi manusia tak perlu lebih tinggi atau meninggikan diri apapun jabatanmu. 


Apa Reaksi Anda ?



Husna Alliyus Dwi Karisma (Pewarta)

Menjadi kaum urban sejak 2011 dan mengaku tidak menambah sesak ibukota.

Popular Post

NO COMMETNTS

LEAVE A REPLY